Minggu, 30 Maret 2014
Sang Prajurit Tanaman
Beberapa waktu lalu saya dibut kesal oleh rumput-rumput liar yang cepat sekali tumbuhnya di halaman rumah, jadi saya cabuti, tapi ternyata aktivitas mencabut tersebut membuat saya menjadi "pengamat amatiran" rumput yang membuka pandangan saya tentang tanaman yang satu ini. Ya, rumput mungkin sejak zaman batu merupakan tanaman yang tidak pernah dilirik orang untuk dijadikan teladan kehidupan, karena letaknya yang di bawah, dan hanya selalu diinjak, namun saran saya sebaiknya kita tidak meremehan si hijau liar ini. Kenapa? Baca secuil tulisan saya ini, dan anda akan tahu jawabannya.
Perhatikan bentuk rumput, daunnya kecil panjang, mudah dipetik, dan sepertinya juga mudah dicabut, tapi itu hanya berlaku saat rumput masih kecil, ketika rumput berukuran menengah dengan lebar lebih dari 20 cm, maka sesuatu yang sepertinya ringkih itu lumayan menguras tenaga untuk mencabutnya. Apa fakta yang didapat? Ya rumput juga tanaman yang akarnya akan kokoh mencengkeram tanah tempat sumber utama ia hidup.
Rumput itu ternyata juga tumbuhan kecil yang paling tahan banting. Ia bisa tumbuh dimana saja, dalam kondisi cuaca dan dan tanah apa saja. Dimana ada tanah kosong yang tidak terawat manusia, maka ia akan tumbuh. Tanpa disiram, tanpa diberi pupuk. Cukup hanya mengandalkan kemurahan sang Pencipta lewat tetes-tetes air hujan, maka ia kan tumbuh subur, beranak pinak, menyebar begitu cepat hanya dalam hitungan minggu. Ibarat dimana ada tanah, disitu ada rumput, dan dimana ada rumput maka dibawah nya pasti ada tanah gembur. Jikapun ia dicabut dan iinjak, maka slogannya adalah mati satu tumbuh seribu! Andaipun bumi ini ditinggalkan manusia, maka tanaman pertama yang akan menguasai setiap daratan di planet biru ini adalah RUMPUT !
Dari sedikit fakta yang saya temukan di atas, saya kini tidak lagi meremehkan rumput, karena dari rumputlah kita bisa belajar banyak. Rumput saja bisa tumbuh tanpa diberi apa-apa, sangat mandiri. Sanggupkah manusia seperti rumput?
Jadi pantas sekali rasanya jika saya menyematkan kata-kata Sang Prajurit Tumbuhan pada rumput, yang berada di garis depan dalam menghijaukan bumi ini. Jadi masihkah kita akan meremehkan begitu saja si rumput?
Yogyakarta, 30 Maret 2014
Sore di kamar
kristianaeli@gmail.com
Langganan:
Komentar (Atom)
