Selasa, 01 Juli 2014

Raja Tengkorak vs Shaun The Sheep




Beberapa waktu yang lalu, di suatu sore yang berangin, keponakan saya yang masih TK kecil minta mbah kung nya untuk ngundo (menerbangkan) layang-layang dengan gambar Shaun the Sheepnya. Layang-layang kecil yang dibeli dengan harga Rp. 1.000/buah dengan benang biasa itu diberi ekor panjang dari kertas yang digunting dengan lebar beberapa centi, dan dilem pada sudut lancip bawah layang-layang. Ceritanya itu sebgai tanda bahwa layang-layang itu tidak untuk ditarungkan, maklum setiap kali layang-layang ponakan saya tatas (lepas), kalah oleh layang-layang lain, ponakan saya selau nangis dan rewel setelahnya.

Eh, baru asyik terbang di angkasa, dimana keponakan saya duduk tenang sambil memegang benang yang digulung dalam kaleng susu, muncul satu layang-layang warna kuning, yang menurut anak-anak tetangga sudah menang 2x dan memang selalu ingin bertarung. Wah layang-layang bergambar seekor kambing dengan bulu keriting itu terus saja dikejar, padahal sudah menghindar terus. Akhirnya karena bapak saya kesal, maka "jiwa pejuang seorang simbah" kepada cucunya muncul, jadi layang-layang raja tengkorak tadi sengaja digiring agar benangnya mendekati tempat kami main, dan ketika benang lawan sudah kelihatan rendah di atas genting rumah, maka benang itu langsung diputus bapak saya, dan jadilah kendali  layang-layang itu ganti di tangan kami... hehe..

Cerita yang simpel sih sebenarnya, tapi saja jadi berpikir, layang-layang itu juga seperti politik, apapun benang yang dipakai, apapun gambar layang-layangnya itu semua hanyalah "kendaraan". Ada seni untuk memainkannya. Ada tarik ulur, mempercepat, memperlambat, mengamati, menggerakkan, dan semua itu ada ditangan si pengendali, sang ''sopir", sang tokoh-tokohnya. Apakah ia seorang petarung seperti pemilik si raja rengkorak, si penghindar seperti bapak saya, si penggembira seperti pemilik Shaun the Sheep, keponakan saya, atau tipe-tipe yang lainnya. Apapun itu, mudah-mudahan kita tidak seperti anak kecil usia 5 tahun yang akan "ngambek, rewel" saat jagoan kita kalah di panggung pemilu ini. Semoga.

Yogyakarta, Juni 2014
kristianaeli@gmail.com