Ada nasihat yang mengatakan bahwa semangat itu juga bisa didapat ketika kita mereview cita-cita di masa lalu. Cita-cita yang dulu membuat mata kita berbinar-binar ketika membicarakannya, walaupun kadang tenggelam termakan realita. Nah apa saja cita-cita saya di masa lalu? Saya rangkumkan disni, karena bisa jadi cita-cita Anda dan saya sama, sehingga kitapun bisa menemukan kembali semangat yang ada di masa lalu bersama-sama.
Cita-cita pertama yang saya miliki waktu TK-awal SD adalah menjadi peragawati cilik! Betul, peragawati yang berlenggak-lenggok di catwalk. Namun saya tidak berani menceritakan ke orang lain, karena selain takut ditertawakan, saya sadar saya berasal dari keluarga sederhana, jadi mana mungkin ada biaya untuk bisa masuk ke sebuah agency. Tapi untungnya saya segera melupakan cita-cita itu, karena setelah dewasa ternyata saya tidak tingggi! hehe.. Waktu akhir SD, saya juga sempat latah teman ingin menjadi insinyur pertanian, lalu saat SMP karena saya suka sekali menggambar denah rumah, maka saya ingin menjadi arsitek. Tapi saya urungkan karena kalau masuk STM siswa perempuannya sedikit, sedang saya kan pemalu, mana mungkin bisa bergaul dengan banyak laki-laki.
Cita-cita saya selanjutnya adalah menjadi seorang Asisten Apoteker, karena menurut saya bidang farmasi adalah bidang yang bergengsi, namun tinggi saya tidak memenuhi syarat untuk masuk Sekolah Menengah Farmasi, ditambah lagi saya kurang menyukai hal-hal mengenai kimia, jadi ya saya pendam cita-cita itu. Tapi lucunya bertahun-tahun kemudian, tidak sengaja saya bisa bekerja di apotik, dimana bos saya mengharuskan saya untuk tahu tentang obat-obatan, bahkan menuntut saya untuk belajar membantu apoteker/Asisten apoteker dalam meracik obat saat banyak pasien. Wah, cita-cita yang tercapai, walau saya sendiri sudah melupakannya...
Lalu waktu kuliah saya ingin menjadi manajer, karena sesuai dengan jurusan yang saya ambil, namun belakangan saya bimbang dengan cita-cita saya tersebut, karena ternyata saya kurang menyukai dunia perkantoran dan jam kerja yang kaku. Nah ditengah masa kuliah tersebut, muncul impian baru, yaitu menjadis seorang dosen, gara-garanya tiap presentasi teman-teman selalu komentar, ih Eli kayak ibu dosen kalau sudah di depan kelas...haha.. Saya ini memang sangat menyukai dunia belajar dan mengajar, dan sangat menikmati saat-saat ketika saya berbicara di depan bayak orang mengenai hal-hal yang menjadi minat dan kompetensi saya. Hanya menjadi dosen itu harus S2, walau saya merasa mampu secara otak, tapi perjalannya masih panjang, saya sih inginnya kuliah di UGM, menjadi asisten dosen, dan akhirnya menjadi dosen di almamater saya sendiri. Sebuah cita-cita yang saya tidak tahu akan terwujud atau tidak...
Ya, cita-cita saya memang terus berubah, namun ada satu cita-cita yang terus ada yang tidak lekang oleh waktu, yaitu menjadi seorang penulis, dimana karya2 saya juga bisa ditemukan di toko-toko buku di seluruh Indonesia! Menulis memang merupakan talenta pertama yang saya tahu. Mulai dari dongeng anak-anak, puisi, cerpen dan artikel, semua saya tulis. Namun ada satu hal yang membuat saya heran, dulu saya pernah membuat sebuah artikel (yg saya tulis sendiri, saya baca sendiri, dan saya buang sendiri..hehe), dan artikel itu mengenai dunia remaja, padahal saya masih kelas 3 SD lho! hehe...kok bisa ya...
Menulis memang jiwa saya, dan profesi menulis merupakan profesi bergengsi dan memberikan kebanggaan tersendiri bagi saya. Dan yang pasti saya kan mengejar cita-cita saya tersebut, karena bagi saya tidak kata terlambat untuk menjadi penulis, dan saya akan membuktikan pada diri sendiri bahwa semangat hidup itu akan terus ada saat kita mengasah apa yang menjadi talenta kita.
Jadi salam semangat untuk saya dan Anda semua!!
Yogya, 14 Juli 2013, siang di kamarku
kristianaeli@gmail.com
Minggu, 14 Juli 2013
Sabtu, 06 Juli 2013
Radio Saku, Sang Pahlawan
Bagi saya, radio memiliki daya tarik tersendiri dibanding hiburan lainnya. Ketika saya butuh semangat, sedang jenuh, mencari inspirasi, pasti saya menyalakan radio, dan tangan ini mencari siaran-siaran yang sesuai dengan mood saat itu. Kadang sambil menulis, membaca, atau hanya tiduran saja sambil memandang ke luar jendela. Radio tetap jauh lebih menarik dari MP3 karena kita kadang tidak tahu lagu apa yang akan diputar, jadi selalu ada surprise yang menyenangkan.
Radio pulalah yang membuka mata saya bahwa teknologi konvensional, terutama dari sebuah radio batu kadang jauh lebih baik daripada teknologi modern. Dan saya ingin membagi cerita kecil tentang sebuah radio saku, radio mungil dengan batu tripel A yang menjadi salah satu pahlawan saya saat peristiwa gempa Yogya 2006 lalu.
Beberapa bulan sebelum gempa, Bapak saya memberikan radio saku untuk saya. Heran saya, ternyata radio sekecil itu dengan baterai masih ada to.. zamannya sekarang kan radio dengan listrik.. Kata Bapak, ada orang yang promosi, karena lumayan murah dan Bapak tahu kalau saya suka sekali mendengarkan radio, maka Bapak membelikannya untuk saya. Radio tersebut hampir setiap hari saya dengarkan hingga batunya habis, dan sempat selama sebulan tidak saya isi,.
Anehnya, beberapa hari sebelum gempa, entah kenapa saya ingin sekali mengisi radio tresebut dengan baterai,mungkin juga itu sebuah "tanda".
Nah ketika ada isu tsunami, barang yang saya bawa adalah dompet, jaket, hp, dan radio saku! Heran juga saya kenapa kok saya bawa radio saku. Tapi saya ingat2 sepertinya saya berpikir siapa tahu ada info tentang gempa. Dan apa yang saya pikirkan itu ternyata benar, ada siaran radio yaitu radio sonora yg merupakan satu2nya radio yg terus siaran dan menghimpun informasi dari seluruh penjuru Yogya, sehingga ketika isu2 berlangsung, dan banyak orang ketakutan, bingung, dengan kabar yang simpang siur, saya merasa tenang2 saja, ya karena saya mendengarkan radio saku yang terus saya genggam di tangan. Bahkan saya ingat, saya sempat dibentak Bapak saya karena saya tidak mau disuruh mengungsi..hehe...
Ada satu kebanggan yang tetap saya ingat sampai detik ini yaitu ketika Bapak saya mengatakan bahwa dari seluruh keluarga, hanya sayalah yang paling tatag ( kuat) menghadapi gempa dan isu tsunami. Wah senang rasanya...
Sejak saat itu saya tidak mau meremehkan sebuah radio batu, radio yang mungkin sudah agak langka di kota2 besar, namun kehadirannya laksana sosok pahlawan yan melebihi kekuatan teknologi modern.
Jogja, Juni 2013
Radio pulalah yang membuka mata saya bahwa teknologi konvensional, terutama dari sebuah radio batu kadang jauh lebih baik daripada teknologi modern. Dan saya ingin membagi cerita kecil tentang sebuah radio saku, radio mungil dengan batu tripel A yang menjadi salah satu pahlawan saya saat peristiwa gempa Yogya 2006 lalu.
Beberapa bulan sebelum gempa, Bapak saya memberikan radio saku untuk saya. Heran saya, ternyata radio sekecil itu dengan baterai masih ada to.. zamannya sekarang kan radio dengan listrik.. Kata Bapak, ada orang yang promosi, karena lumayan murah dan Bapak tahu kalau saya suka sekali mendengarkan radio, maka Bapak membelikannya untuk saya. Radio tersebut hampir setiap hari saya dengarkan hingga batunya habis, dan sempat selama sebulan tidak saya isi,.
Anehnya, beberapa hari sebelum gempa, entah kenapa saya ingin sekali mengisi radio tresebut dengan baterai,mungkin juga itu sebuah "tanda".
Nah ketika ada isu tsunami, barang yang saya bawa adalah dompet, jaket, hp, dan radio saku! Heran juga saya kenapa kok saya bawa radio saku. Tapi saya ingat2 sepertinya saya berpikir siapa tahu ada info tentang gempa. Dan apa yang saya pikirkan itu ternyata benar, ada siaran radio yaitu radio sonora yg merupakan satu2nya radio yg terus siaran dan menghimpun informasi dari seluruh penjuru Yogya, sehingga ketika isu2 berlangsung, dan banyak orang ketakutan, bingung, dengan kabar yang simpang siur, saya merasa tenang2 saja, ya karena saya mendengarkan radio saku yang terus saya genggam di tangan. Bahkan saya ingat, saya sempat dibentak Bapak saya karena saya tidak mau disuruh mengungsi..hehe...
Ada satu kebanggan yang tetap saya ingat sampai detik ini yaitu ketika Bapak saya mengatakan bahwa dari seluruh keluarga, hanya sayalah yang paling tatag ( kuat) menghadapi gempa dan isu tsunami. Wah senang rasanya...
Sejak saat itu saya tidak mau meremehkan sebuah radio batu, radio yang mungkin sudah agak langka di kota2 besar, namun kehadirannya laksana sosok pahlawan yan melebihi kekuatan teknologi modern.
Jogja, Juni 2013
Langganan:
Komentar (Atom)