Sabtu, 06 Juli 2013

Radio Saku, Sang Pahlawan

Bagi saya, radio memiliki daya tarik tersendiri dibanding hiburan lainnya. Ketika saya butuh semangat, sedang jenuh, mencari inspirasi, pasti saya menyalakan radio, dan tangan ini mencari siaran-siaran yang sesuai dengan mood saat itu. Kadang sambil menulis, membaca, atau hanya tiduran saja sambil memandang ke luar jendela. Radio tetap jauh lebih menarik dari MP3 karena kita kadang tidak tahu lagu apa yang akan diputar, jadi selalu ada surprise yang menyenangkan.

Radio pulalah yang membuka mata saya bahwa teknologi konvensional, terutama dari sebuah radio batu kadang jauh lebih baik daripada teknologi modern. Dan saya ingin membagi cerita kecil tentang sebuah radio saku, radio mungil dengan batu tripel A yang menjadi salah satu pahlawan saya saat peristiwa gempa Yogya 2006 lalu.

Beberapa bulan sebelum gempa, Bapak saya memberikan radio saku untuk saya. Heran saya, ternyata radio sekecil itu dengan baterai masih ada to.. zamannya sekarang kan radio dengan listrik.. Kata Bapak, ada orang yang promosi, karena lumayan murah dan Bapak tahu kalau saya suka sekali mendengarkan radio, maka Bapak membelikannya untuk saya. Radio tersebut hampir setiap hari saya dengarkan hingga batunya habis, dan sempat selama sebulan tidak saya isi,.

Anehnya, beberapa hari sebelum gempa, entah kenapa saya ingin sekali mengisi radio tresebut dengan baterai,mungkin juga itu sebuah "tanda".
Nah ketika ada isu tsunami, barang yang saya bawa adalah dompet, jaket, hp, dan radio saku! Heran juga saya kenapa kok saya bawa radio saku. Tapi saya ingat2 sepertinya saya berpikir  siapa tahu ada info tentang gempa. Dan apa yang saya pikirkan itu ternyata benar, ada siaran radio yaitu radio sonora yg  merupakan satu2nya radio yg terus siaran dan menghimpun informasi dari seluruh penjuru Yogya, sehingga ketika isu2 berlangsung, dan banyak orang ketakutan, bingung, dengan kabar  yang simpang siur, saya merasa tenang2 saja, ya karena saya mendengarkan radio saku yang terus saya genggam di tangan. Bahkan saya ingat, saya sempat dibentak Bapak saya karena saya tidak mau disuruh mengungsi..hehe...

Ada satu kebanggan yang tetap saya ingat sampai detik ini yaitu ketika Bapak saya mengatakan bahwa dari seluruh keluarga, hanya sayalah yang paling tatag ( kuat) menghadapi gempa dan isu tsunami. Wah senang rasanya...
Sejak saat itu saya tidak mau meremehkan sebuah radio batu, radio yang mungkin sudah agak langka di kota2 besar, namun kehadirannya laksana sosok pahlawan yan melebihi kekuatan teknologi modern.

Jogja, Juni 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar