Saya ini salah satu penyuka kopi susu. Minuman panas tersebut saya minum ketika butuh stimulan kecil antara pagi sampai sore hari. Saya sih tidak setiap hari meminumnya, karena tergantung keinginan saja, lagipula saya lebih suka manfaat kopi itu sendiri dibanding rasa yang tercecap di lidah. Bagi saya kopi berampas jauh lebih nyaman di tubuh. Selain rasanya lebih alami, rasa kopi berampas jauh lebih mantap.
Dari beberapa merk kopi susu yang ada di pasaran seperti kopi ABC, Torabika, Fresko, hingga yang terbaru yaitu Top kopi, rasa yang paling enak (menurut saya) adalah merk terakhir itu. Rasa kopinya paling mantap, rasa gurih susunya terasa, komposisinyapun alami, hanya kopi, gula, krimer, dan susu bubuk, tanpa tambahan perasa identik maupun pemanis buatan seperti yang ada pada beberapa merk kopi lain.
Walaupun begitu, tetap saja penjelajahan rasa merk-merk kopi tetap saya lakukan, selain mengurangi bosan, kebetulan warung sekitar rumah saya punya beberapa merk lain yang menggoda untuk dicoba.
Namun, sadarkah kita bahwa secangkir kopi susu tersebut bisa dijadikan cermin kehidupan ini? Ada perpaduan antara hitam kopi dan putih susu yang menggambarkan putih (baik), dan hitam (buruk), yin dan yang. Semua tidak terpisahkan dan tidak akan dapat dipisahkan, karena disitulah letak keseimbangan dunia.
Nah, pertanyaannya sekarang adalah, apakah seimbang itu kadarnya harus sama? Kalau saya sih lebih setuju bahwa antara hitam dan putih itu harus beriringan, namun dengan kadar berbeda. Semua harus sesuai porsinya masing-masing, ditempatnya masing-masing, sehingga pas... Pas racikannya, seperti iklan kopi susu Torabika yang mengklaim telah dikonsumsi milyaran cangkir di dunia.. :-)
So, nikmati kopi susumu, dan "bercerminlah" untuk memahami hidup lebih dalam.
Yogyakarta, awal 2015
kristianaeli@gmail.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar