Setiap kali pergi bersama teman-teman ke toko buku atau perpustakaan, selalu saja buku yang menarik perhatian untuk dibaca teman-teman saya adalah buku-buku test IQ, apalagi saat musim-musim penerimaan PNS. Kalau saya sih hanya sekilas pandang saja, dan memilih melewati buku-buku tersebut. Jujur saya tidak tertarik, jadi wajar jika saya tidak suka mengerjakan tes-tes IQ. Saya sih bukannya tidak menganggap tes IQ tidak penting, penting sih untuk mengukur IQ, kita tapi mengingat saya tidak tertarik untuk menjadi PNS dan sebangsanya jadi wajar kalau males soal ukur2 kecerdasan.
Lagipula saya menemukan fakta-fakta di sekitar saya bahwa IQ tinggi bukanlah satu-satunya penentu kecerdasan seseorang (secara umum). Orang yang terus-menerus belajar mengerjakan soal-soal tes IQ akan lebih mudah mengerjakannya dibanding mereka yang tidak pernah mengerjakan soal-IQ, karena faktor hapalan POLA. Soal-soal IQ disusun berdasar pola-pola penalaran. Soalnya sih berbeda, tapi polanya sama.Begitu juga orang yang terbiasa mengerjakan TTS, ia lebih cepat dan lebih jago dalam menebak kata dibanding orang cerdas yang tidak pernah mengisi TTS.
Jika kecerdasan selalu dikitkan dengan daya ingat kuat, saya juga kurang setuju, karena ada seorang temnen saya yang sejak SD sampai kuliah tergolong pintar dan mendapat nilai bagus, terang-terangan mengakui ia punya kelemahan dalam hal daya ingat, mulai dari menaruh barang-barang kecil seperti kunci motor, rute jalan, dsb. Dari situ saya simpulkan (tentu dengan cara menjadi pengamat amatiran :-)), bahwa cerdas itu tidak selalu tentang daya ingat kuat, tapi juga soal kendali atas dirinya sendiri. Teman saya itu tahu kapan waktunya menggunakan daya ingat/kecerdasan untuk hal-hal yang benar-benar penting, seperti saat ia harus belajar, dan kapan ia tidak harus selalu menggunakan daya ingatnya untuk hal-hal yang tidak terlalu penting (walau tetap juga membuat ribet :-)).
Nah sekarang bagaimana dengan saya? Sebenarnya sih saya kadang juga penasaran dengan seberapa IQ saya, tapi karena beberapa kali saya pernah mencoba menjawab soal-soal IQ dan banyak salahnya, jadi ya mungkin tidak tinggi-tinggi amat. Saya juga punya kelemahan untuk mengingat nama orang, sayapun juga tidak akan selalu mendokumentasikan semua hal di memori saya (kecuali untuk hal-hal yang menurut saya sangat amat penting). Toh orang akan bisa menilai seberapa cerdas diri kita (secara umum) bukan berdasar penilaian di atas kertas semata, tapi dari cara kita menjalani kehidupan ini setiap detik dan setiap waktu.
Jadi diterima saja berapa IQ kita, dan biarkan kita kembangkan kecerdasan non IQ kita. Itu saja.
Yogya, 29 Juli 2015
kristianaeli@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar