Minggu, 20 September 2015

Bersama Doraemon Menggenggam Mimpi

Salah satu serial kartun yang saya sukai sejak saya masih kecil (sampai sekarang juga..:-p) adalah Doraemon. Setiap minggu pagi saya tidak pernah absen menontonnya. Jalan ceritanya yang menarik, tokoh-tokohnya yang unik dan lucu, musik khasnya doraemon yang ceria, serta matahari dan udara segar di hari minggu pagi yang indah, melekat kuat di benak saya, sehingga jadilah Doraemon identik hari mingu bagi saya.

Ketika masa anak-anak saya telah lewat dan menjadi dewasa seperti sekarang ini, jujur saya masih sangat menggemarinya. Memang saya jarang sekali menonton atau membaca komiknya karena banyak hal lain yang harus saya prioritaskan, namun jika kebetulan sedang tayang di tv atau menemukan komiknya, pasti saya ikuti. Bukan karena ingin kembali menjadi seperti anak-anak yang masih menyukai semua yang serba anak-anak suka, tapi jauh lebih besar dari itu. Konon, di usia dewasa ini kita semakin jarang tertawa dan ceria dibanding saat kita kecil, dan tontonan-tontonan ringan dan lucu seperti Doraemon akan menyehatkan psikis kita. Saya juga merasa bahagia ketika mengikuti cerita Doraemon, dan itu adalah masa bahagia yang saya rasa waktu saya masih kecil. Bahagia karena di dalam cerita Doraemon ada banyak hal yang mustahil menjadi kenyataan, lewat kantong ajaibnya, si pengabul impian.

Saat masih kecil, kita tidak pernah berpikir apakah impian-impian kita di masa depan akan  terwujud atau tidak. Yang penting bermimpi, berharap, dan selalu ceria khas anak-anak. Sudah, itu saja, sesimpel itu. Sekarang lihatlah diri kita sekarang ini, masihkah semua itu bertahan? Ada yang bertahan, ada yang tergerus realita hidup. Lalu bagaimana dengan saya, si penggemar cerita Doraemon ini? Saya sih tetap kukuh menggenggam mimpi-mimpi saya. Namun harus saya akui bahwa semakin dewasa saya semakin mengerti bahwa mimpi-mimpi saya itupun bertransformasi, menjadi lebih baik dan lebih sesuai realita, contohnya seperti dulu pernah ingin menjadi pragawati tapi tinggi cuma segini, ya sudah menggenggam mimpi yang lainnya saja, toh masih banyak. Lalu jika saya diposisikan menjadi Nobita, maka saya akan meminta Doraemon untuk mengabulkan keinginan-keinginan saya ini : Mengunjungi Jerman, Mengunjungi Papua, Membuat novel yang diangkat ke layar lebar, Berbicara di depan forum dengan ribuan penonton dll. Dan sekali lagi seperti Nobita, saya tidak akan malu meminta, dan tidak perduli banyak orang menertawakan mimpi-mimpi saya itu. Bagi saya hidup itu harus punya mimpi, harus punya harapan, karena kita tidak akan pernah tahu bahwa suatu saat nanti si "Doraemon" itu akan datang mengabulkan mimpi kita. Amin.

Yogya, 18 Okt 2015
kristianaeli@gmail.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar