Banyak yang heran dan bertanya kepada saya, kenapa saya jarang aktif di media sosial, padahal di zaman sekarang ini orang yang tidak aktif di medsos dianggap ketinggalan zaman. Biasanya saya menjawab sekenanya, kadang saya jawab males, kadang saya jawab ga suka, ya jawaban yang sangat asal. Namun jawaban yang sebenarnya adalah saya tidak mau terbawa arus ego untuk selalu eksis. Saya mengamati diri saya dulu ketika awal-awal punya fb, masa senang-senang nya punya media sosial, saya seperti ingin menulis semua yang saya rasa, yang saya lihat, padahal sesungguhnya bagi orang lain itu tidak selalu penting. Saya juga mulai ketagihan atau "gatal" untuk selalu mengomentari status teman-teman fb, entah statusnya penting atau tidak penting. Lalu saya mulai menemukan bahwa saya semakin jauh dari batas antara kebutuhan atau keinginan, padahal selalu mengomentari atau menceritakan semua hal bukanlah kebutuhan, tapi ego. Hingga suatu ketika oleh karena suatu hal saya mulai mengurangi frekuensi update status di medsos, dan saya mulai melihat lagi batas antara privasi, etika, kebutuhan yang dulu amburadul. Sejak saat itu saya memutuskan untuk benar-benar selektif di medsos. Ada sebuah tulisan yang menguatkan keputusan saya dari Sonia Riccoti dalam bukunya "The Law of Attraction, plain and simple" yaitu, : Setiap hari kita mendengar berita bagaimana semakin banyak orang tewas dalam perang. Saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak terpapar stimulus negatif seperti itu, karena hal itu akan mempengaruhi pikiran dan perasaan saya...
Ya, Begitulah, diri kita akan mudah sekali terpengaruh apapun yang biasa kita lihat dan kita dengar..
Saya tidak menganjurkan orang-orang harus seperti saya, tapi minimal mampu mengerem hal-hal yang tidak penting di medsos, bisa selektif akan semua berita, tidak lagi berbicara seenak perutnya sendiri, tidak etis, ngawur, tidak mengumbar hal-hal pribadi yang harusnya disimpan untuk sendiri saja. Saya sangat setuju dengan adanya gerakan medsos yang hanya berisi ajakan untuk menulis tulisan-tulisan positif, atau yang sifatnya membangun, karena virus negatif itu akan sangat cepat menular ke ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang di dunia. Jadi mari bijak dalam ber-medsos... :-)
Yogyakarta, 2015
kristianaeli@gmail.com
Senin, 23 November 2015
Minggu, 20 September 2015
Bersama Doraemon Menggenggam Mimpi
Salah satu serial kartun yang saya sukai sejak saya masih kecil (sampai sekarang juga..:-p) adalah Doraemon. Setiap minggu pagi saya tidak pernah absen menontonnya. Jalan ceritanya yang menarik, tokoh-tokohnya yang unik dan lucu, musik khasnya doraemon yang ceria, serta matahari dan udara segar di hari minggu pagi yang indah, melekat kuat di benak saya, sehingga jadilah Doraemon identik hari mingu bagi saya.
Ketika masa anak-anak saya telah lewat dan menjadi dewasa seperti sekarang ini, jujur saya masih sangat menggemarinya. Memang saya jarang sekali menonton atau membaca komiknya karena banyak hal lain yang harus saya prioritaskan, namun jika kebetulan sedang tayang di tv atau menemukan komiknya, pasti saya ikuti. Bukan karena ingin kembali menjadi seperti anak-anak yang masih menyukai semua yang serba anak-anak suka, tapi jauh lebih besar dari itu. Konon, di usia dewasa ini kita semakin jarang tertawa dan ceria dibanding saat kita kecil, dan tontonan-tontonan ringan dan lucu seperti Doraemon akan menyehatkan psikis kita. Saya juga merasa bahagia ketika mengikuti cerita Doraemon, dan itu adalah masa bahagia yang saya rasa waktu saya masih kecil. Bahagia karena di dalam cerita Doraemon ada banyak hal yang mustahil menjadi kenyataan, lewat kantong ajaibnya, si pengabul impian.
Saat masih kecil, kita tidak pernah berpikir apakah impian-impian kita di masa depan akan terwujud atau tidak. Yang penting bermimpi, berharap, dan selalu ceria khas anak-anak. Sudah, itu saja, sesimpel itu. Sekarang lihatlah diri kita sekarang ini, masihkah semua itu bertahan? Ada yang bertahan, ada yang tergerus realita hidup. Lalu bagaimana dengan saya, si penggemar cerita Doraemon ini? Saya sih tetap kukuh menggenggam mimpi-mimpi saya. Namun harus saya akui bahwa semakin dewasa saya semakin mengerti bahwa mimpi-mimpi saya itupun bertransformasi, menjadi lebih baik dan lebih sesuai realita, contohnya seperti dulu pernah ingin menjadi pragawati tapi tinggi cuma segini, ya sudah menggenggam mimpi yang lainnya saja, toh masih banyak. Lalu jika saya diposisikan menjadi Nobita, maka saya akan meminta Doraemon untuk mengabulkan keinginan-keinginan saya ini : Mengunjungi Jerman, Mengunjungi Papua, Membuat novel yang diangkat ke layar lebar, Berbicara di depan forum dengan ribuan penonton dll. Dan sekali lagi seperti Nobita, saya tidak akan malu meminta, dan tidak perduli banyak orang menertawakan mimpi-mimpi saya itu. Bagi saya hidup itu harus punya mimpi, harus punya harapan, karena kita tidak akan pernah tahu bahwa suatu saat nanti si "Doraemon" itu akan datang mengabulkan mimpi kita. Amin.
Yogya, 18 Okt 2015
kristianaeli@gmail.com
Ketika masa anak-anak saya telah lewat dan menjadi dewasa seperti sekarang ini, jujur saya masih sangat menggemarinya. Memang saya jarang sekali menonton atau membaca komiknya karena banyak hal lain yang harus saya prioritaskan, namun jika kebetulan sedang tayang di tv atau menemukan komiknya, pasti saya ikuti. Bukan karena ingin kembali menjadi seperti anak-anak yang masih menyukai semua yang serba anak-anak suka, tapi jauh lebih besar dari itu. Konon, di usia dewasa ini kita semakin jarang tertawa dan ceria dibanding saat kita kecil, dan tontonan-tontonan ringan dan lucu seperti Doraemon akan menyehatkan psikis kita. Saya juga merasa bahagia ketika mengikuti cerita Doraemon, dan itu adalah masa bahagia yang saya rasa waktu saya masih kecil. Bahagia karena di dalam cerita Doraemon ada banyak hal yang mustahil menjadi kenyataan, lewat kantong ajaibnya, si pengabul impian.
Saat masih kecil, kita tidak pernah berpikir apakah impian-impian kita di masa depan akan terwujud atau tidak. Yang penting bermimpi, berharap, dan selalu ceria khas anak-anak. Sudah, itu saja, sesimpel itu. Sekarang lihatlah diri kita sekarang ini, masihkah semua itu bertahan? Ada yang bertahan, ada yang tergerus realita hidup. Lalu bagaimana dengan saya, si penggemar cerita Doraemon ini? Saya sih tetap kukuh menggenggam mimpi-mimpi saya. Namun harus saya akui bahwa semakin dewasa saya semakin mengerti bahwa mimpi-mimpi saya itupun bertransformasi, menjadi lebih baik dan lebih sesuai realita, contohnya seperti dulu pernah ingin menjadi pragawati tapi tinggi cuma segini, ya sudah menggenggam mimpi yang lainnya saja, toh masih banyak. Lalu jika saya diposisikan menjadi Nobita, maka saya akan meminta Doraemon untuk mengabulkan keinginan-keinginan saya ini : Mengunjungi Jerman, Mengunjungi Papua, Membuat novel yang diangkat ke layar lebar, Berbicara di depan forum dengan ribuan penonton dll. Dan sekali lagi seperti Nobita, saya tidak akan malu meminta, dan tidak perduli banyak orang menertawakan mimpi-mimpi saya itu. Bagi saya hidup itu harus punya mimpi, harus punya harapan, karena kita tidak akan pernah tahu bahwa suatu saat nanti si "Doraemon" itu akan datang mengabulkan mimpi kita. Amin.
Yogya, 18 Okt 2015
kristianaeli@gmail.com
Rabu, 29 Juli 2015
Tanda Tanya Kecerdasan
Setiap kali pergi bersama teman-teman ke toko buku atau perpustakaan, selalu saja buku yang menarik perhatian untuk dibaca teman-teman saya adalah buku-buku test IQ, apalagi saat musim-musim penerimaan PNS. Kalau saya sih hanya sekilas pandang saja, dan memilih melewati buku-buku tersebut. Jujur saya tidak tertarik, jadi wajar jika saya tidak suka mengerjakan tes-tes IQ. Saya sih bukannya tidak menganggap tes IQ tidak penting, penting sih untuk mengukur IQ, kita tapi mengingat saya tidak tertarik untuk menjadi PNS dan sebangsanya jadi wajar kalau males soal ukur2 kecerdasan.
Lagipula saya menemukan fakta-fakta di sekitar saya bahwa IQ tinggi bukanlah satu-satunya penentu kecerdasan seseorang (secara umum). Orang yang terus-menerus belajar mengerjakan soal-soal tes IQ akan lebih mudah mengerjakannya dibanding mereka yang tidak pernah mengerjakan soal-IQ, karena faktor hapalan POLA. Soal-soal IQ disusun berdasar pola-pola penalaran. Soalnya sih berbeda, tapi polanya sama.Begitu juga orang yang terbiasa mengerjakan TTS, ia lebih cepat dan lebih jago dalam menebak kata dibanding orang cerdas yang tidak pernah mengisi TTS.
Jika kecerdasan selalu dikitkan dengan daya ingat kuat, saya juga kurang setuju, karena ada seorang temnen saya yang sejak SD sampai kuliah tergolong pintar dan mendapat nilai bagus, terang-terangan mengakui ia punya kelemahan dalam hal daya ingat, mulai dari menaruh barang-barang kecil seperti kunci motor, rute jalan, dsb. Dari situ saya simpulkan (tentu dengan cara menjadi pengamat amatiran :-)), bahwa cerdas itu tidak selalu tentang daya ingat kuat, tapi juga soal kendali atas dirinya sendiri. Teman saya itu tahu kapan waktunya menggunakan daya ingat/kecerdasan untuk hal-hal yang benar-benar penting, seperti saat ia harus belajar, dan kapan ia tidak harus selalu menggunakan daya ingatnya untuk hal-hal yang tidak terlalu penting (walau tetap juga membuat ribet :-)).
Nah sekarang bagaimana dengan saya? Sebenarnya sih saya kadang juga penasaran dengan seberapa IQ saya, tapi karena beberapa kali saya pernah mencoba menjawab soal-soal IQ dan banyak salahnya, jadi ya mungkin tidak tinggi-tinggi amat. Saya juga punya kelemahan untuk mengingat nama orang, sayapun juga tidak akan selalu mendokumentasikan semua hal di memori saya (kecuali untuk hal-hal yang menurut saya sangat amat penting). Toh orang akan bisa menilai seberapa cerdas diri kita (secara umum) bukan berdasar penilaian di atas kertas semata, tapi dari cara kita menjalani kehidupan ini setiap detik dan setiap waktu.
Jadi diterima saja berapa IQ kita, dan biarkan kita kembangkan kecerdasan non IQ kita. Itu saja.
Yogya, 29 Juli 2015
kristianaeli@gmail.com
Lagipula saya menemukan fakta-fakta di sekitar saya bahwa IQ tinggi bukanlah satu-satunya penentu kecerdasan seseorang (secara umum). Orang yang terus-menerus belajar mengerjakan soal-soal tes IQ akan lebih mudah mengerjakannya dibanding mereka yang tidak pernah mengerjakan soal-IQ, karena faktor hapalan POLA. Soal-soal IQ disusun berdasar pola-pola penalaran. Soalnya sih berbeda, tapi polanya sama.Begitu juga orang yang terbiasa mengerjakan TTS, ia lebih cepat dan lebih jago dalam menebak kata dibanding orang cerdas yang tidak pernah mengisi TTS.
Jika kecerdasan selalu dikitkan dengan daya ingat kuat, saya juga kurang setuju, karena ada seorang temnen saya yang sejak SD sampai kuliah tergolong pintar dan mendapat nilai bagus, terang-terangan mengakui ia punya kelemahan dalam hal daya ingat, mulai dari menaruh barang-barang kecil seperti kunci motor, rute jalan, dsb. Dari situ saya simpulkan (tentu dengan cara menjadi pengamat amatiran :-)), bahwa cerdas itu tidak selalu tentang daya ingat kuat, tapi juga soal kendali atas dirinya sendiri. Teman saya itu tahu kapan waktunya menggunakan daya ingat/kecerdasan untuk hal-hal yang benar-benar penting, seperti saat ia harus belajar, dan kapan ia tidak harus selalu menggunakan daya ingatnya untuk hal-hal yang tidak terlalu penting (walau tetap juga membuat ribet :-)).
Nah sekarang bagaimana dengan saya? Sebenarnya sih saya kadang juga penasaran dengan seberapa IQ saya, tapi karena beberapa kali saya pernah mencoba menjawab soal-soal IQ dan banyak salahnya, jadi ya mungkin tidak tinggi-tinggi amat. Saya juga punya kelemahan untuk mengingat nama orang, sayapun juga tidak akan selalu mendokumentasikan semua hal di memori saya (kecuali untuk hal-hal yang menurut saya sangat amat penting). Toh orang akan bisa menilai seberapa cerdas diri kita (secara umum) bukan berdasar penilaian di atas kertas semata, tapi dari cara kita menjalani kehidupan ini setiap detik dan setiap waktu.
Jadi diterima saja berapa IQ kita, dan biarkan kita kembangkan kecerdasan non IQ kita. Itu saja.
Yogya, 29 Juli 2015
kristianaeli@gmail.com
Minggu, 14 Juni 2015
Kopi Susu dan Cermin Hidup
Saya ini salah satu penyuka kopi susu. Minuman panas tersebut saya minum ketika butuh stimulan kecil antara pagi sampai sore hari. Saya sih tidak setiap hari meminumnya, karena tergantung keinginan saja, lagipula saya lebih suka manfaat kopi itu sendiri dibanding rasa yang tercecap di lidah. Bagi saya kopi berampas jauh lebih nyaman di tubuh. Selain rasanya lebih alami, rasa kopi berampas jauh lebih mantap.
Dari beberapa merk kopi susu yang ada di pasaran seperti kopi ABC, Torabika, Fresko, hingga yang terbaru yaitu Top kopi, rasa yang paling enak (menurut saya) adalah merk terakhir itu. Rasa kopinya paling mantap, rasa gurih susunya terasa, komposisinyapun alami, hanya kopi, gula, krimer, dan susu bubuk, tanpa tambahan perasa identik maupun pemanis buatan seperti yang ada pada beberapa merk kopi lain.
Walaupun begitu, tetap saja penjelajahan rasa merk-merk kopi tetap saya lakukan, selain mengurangi bosan, kebetulan warung sekitar rumah saya punya beberapa merk lain yang menggoda untuk dicoba.
Namun, sadarkah kita bahwa secangkir kopi susu tersebut bisa dijadikan cermin kehidupan ini? Ada perpaduan antara hitam kopi dan putih susu yang menggambarkan putih (baik), dan hitam (buruk), yin dan yang. Semua tidak terpisahkan dan tidak akan dapat dipisahkan, karena disitulah letak keseimbangan dunia.
Nah, pertanyaannya sekarang adalah, apakah seimbang itu kadarnya harus sama? Kalau saya sih lebih setuju bahwa antara hitam dan putih itu harus beriringan, namun dengan kadar berbeda. Semua harus sesuai porsinya masing-masing, ditempatnya masing-masing, sehingga pas... Pas racikannya, seperti iklan kopi susu Torabika yang mengklaim telah dikonsumsi milyaran cangkir di dunia.. :-)
So, nikmati kopi susumu, dan "bercerminlah" untuk memahami hidup lebih dalam.
Yogyakarta, awal 2015
kristianaeli@gmail.com
Langganan:
Komentar (Atom)
