Aku menyebutmu anak-anak keindahan
Berbaris rapi turun ke punggung bumi
Dalam jentikan helai cahaya bersayap
Satu-satu menjelma serupa bening mata fajar
Kupahami kau dalam balutan kabut
Hingga kucintai kau dalam tawar titik embun
Leburlah dalam jiwaku...
Kan kutahbiskan menjadi nafas baruku
Dan kunamai kau sebagai EMBRIO SENI ...
- Eli Kristiana -
Usai menulis Tindes Art part 1 dan part 2, saya tidak punya niatan untuk melanjutkannya sampai part 3. Saya pikir tulisan kemarin sudah cukup mengupas Tindes Art dalam sudut pandang saya. Tetapi ketika mengamati lembaran kain karya Tindes Art tersebut, rasanya sayang jika tidak menuliskannya sampai selesai proses pembuatan berupa sebuah produk jadi. Hanya ternyata ketika produk sudah jadi, mood menulis saya sedang sangat turun, jadilah baru sekitar dua bulan kemudian tulisan ini baru mampu saya selesaikan. Tidak apa-apalah, yang penting jadi, dan mudah-mudahan bisa menjadi bahan referensi semua penggiat Tindes Art.
Saat memutuskan lembaran kain tersebut akan dijadikan apa, yang tertanam jelas di benak saya adalah saya ingin membuat karya yang tidak dengan mudah ditebak orang. Kalau kaus, tas, dompet, saya rasa sudah biasa. Harus saya akui saya punya idealisme sendiri, dimana karya saya nanti selain berbeda juga harus sesuai dengan tema dua tulisan saya yang kemarin, memuat unsur sederhana, ada cerita utuh didalamnya, dan memuat filosofi kehidupan. Namun yang paling penting memanfaatkan bahan apa adanya di rumah. Saya tertantang untuk membuktikan kemampuan saya tersebut walau yang ini tidak saja membuat cekot-cekot tapi juga puyeng. :-)
Saya beruntung, sedari kecil saya suka mengutak-atik semua yang serba kain, jadi hal tersebut sangat membantu saya dalam berkarya. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk membuat sebuah gantungan pintu.
Beberapa kesulitan yang saya temui yaitu kain blacu adalah kain dengan jenis serat yang kaku, dan jika tidak berhati-hati dalam memperlakukan kain terutama dalam proses menjahit, maka akan menimbulkan lubang-lubang bekas jarum yang sulit hilang. Kainnya sulit rapi. Hasil gambar sayapun jauh dari sempurna, dengan kemampuan menggambar seadanya, dimana hanya beberapa tangkai bunga, lalu matahari yang bersinar dan beberapa binatang bersayap. Garis-garis gambarpun ada yang tidak rapi, dobel, tidak tegas, bahkan ada yang tidak nampak. Hal tersebut karena saya sempat grogi waktu proses pembersihan tinta. Namun semua ketidaksempurnaan tersebut justru memunculkan inspirasi untuk memasukkan tambahan-tambahan di dalam karya saya nanti, alias "mengundang bala bantuan" untuk menyempurnakannya, dan memperindah, yang saya sebut Tindes Art and Friends.
Gambar Tindes Art saya letakkan sebagai centering point karena itu yang paling utama. Bagian atas dan bawah saya gulung yang hasilnya menyerupai sebuah panggung pertunjukan. Ide tersebut muncul saat saya membawa pulang karya saya dulu saya diberitahu untuk menggulung kain ke dalam karena tinta belum sepenuhnya kering.
Supaya gulungan kokoh, saya memanfaatkan batang tabung plastik yang ada dalam setiap benang jahit, lalu saya jahit belakangnya supaya kuat. Lalu serat-serat benang yang ada pada tepi kain kanan kiri saya tarik satu persatu supaya rapi. Langkah selanjutnya saya menempatkan satu boneka flanel dengan karangan bunga di dadanya yang beberapa waktu yang lalu saya buat dengan cara menjahitnya. Saya mengibaratkannya sebagai sosok seniman si pembuat Tindes Art yang gambarnya dipasang di sampingnya. Karangan bunga adalah lambang penghargaan atas karyanya tersebut. Kemudian untuk mengisi kekosongan di sebelah kanan, saya membuat tulisan Tindes Art dengan jahit tangan. Sengaja tulisan saya buat tanpa pola untuk menguatkan kesan alaminya. Saya memilih benang warna merah dan biru karena saya perhatikan warna-warna tersebut yang paling sering dipakai dalam Tindes Art. Di bawah tulisan, saya memasang hiasan dari flanel semacam bunga yang helainya seakan berputar ditiup angin. Yang terakhir saya memasang gantungan diatasnya. Gantungan tersebut terbuat dari gantungan kunci dimana rantainya saya sambung supaya lebih panjang. Sebenarnya semua sudah jadi, tapi ketika karya itu digantungkan, muncul masalah pada keseimbangannya, dimana sebelah kiri ternyata lebih berat dari kanan. Jadilah saya menggunakan magnet kecil sebagai pemberat di sisi kanan yang saya sisipkan dalam gulungan supaya seimbang.
Karya saya ini memuat filosofi tentang kehidupan seniman. Seorang seniman ibarat selalu ada di atas panggung pertunjukan dengan penghargaan-penghargaan yang diterimanya, artinya dia ada di sisi kesuksesannya, kegemerlapannya, dihargai, dikagumi karya-karyanya. Tapi di sisi kanan ada "pemberat", roda kehidupan (bunga berputar), garis-garis nasib (tulisan Tindes Art). Dia harus eling (ingat), bahwa tidak ada kesuksesan yang abadi. Karya-karyanya pun juga bisa jadi sarana "penindas" kebahagiannya karena roda hidup akan selalu berputar. Angin badai bisa meniupnya, terlempar ke sisi bawahnya. Disinilah pentingnya menempatkan Sang Pusat, Sang Sumber Utama Keindahan, Sang Pencipta alam semesta di tengah-tengah panggung kehidupannya.
Ada sebagian orang yang menganggap seni itu sangat idealis, individualis, tapi jika kita ingin karya kita semakin sempurna, maka kita harus mau membuka diri, mau bekerjasama dengan pihak lain. Menganggap diri yang paling hebat, paling kreatif, hanya akan menjauhkan diri dari kesempurnaan karya semata. Seorang seniman tetap butuh teman (bantuan) untuk membuat karya/pekerjaannya mendekati sempurna. Seperti sastrawan yang mungkin butuh ilustrator, penari yang butuh asisten tari, atau pelukis mungkin butuh orang2 yang tidak berhubungan dengan seni seperti manajer yang mengurusi market lukisannya, atau bahkan hanya sebuah dukungan penuh dari orang-orang di sekitarnya. Seniman tetap butuh bantuan manusia lain untuk berkarya, dan inilah mengapa saya memberi judul tulisan saya Tindes Art and Friends.
Silakan mencerna, dan salam kreatif !
Yogyakarta, November 2016
kristianaeli@gmail.com


