hanya untuk sekedar mengintip kitab kehidupan ini
karena aku diambang bimbang...
- Eli Kristiana -
Hari ini perasaan saya lumayan melankolis, sehingga sayapun ingin menulis sesuatu yang sedikit lebih puitis yang agak berbeda dengan tulisan-tulisan saya lainnya. Semua ini dimulai saat saya jengah dengan cuaca yang tidak menentu, padahal setahu saya dalam rahim ibu tropis telah ada blueprint dua musim, musim panas dan musim hujan. Musim panas mendapat jatah waktu saat mendekati pertengahan tahun hingga mendekati akhir tahun masehi, begitupun sebaliknya, dan itu perjanjian harga mati, yang dimaterai oleh si ibu tropis. Itu sudah berlangsung sejak masa berganti masa. Selalu sama. Namun tahun ini ada yang berbeda, serasa musim panas ingin berganti kelamin. Dari panas ia merayu umtuk menjadi hujan. Hujan mungkin jadi marah, sehingga ia mengguyurkan airnya yang turun belum pada waktunya. Saya jadi berpikir mungkin dewa matahari kebingungan menyaksikan sebagian planet biru yang saling bersitegang, dan mungkin si ibu tropis yang dahulu mengandung panas dan hujan hanya bisa tertunduk sendu. Ia tidak lagi mengingat romantisme lingga yoni dalam ikatan sucinya dengan sang kehidupan. Baginya berdamainya panas dan hujan lebih penting, karena mereka harus saling menatap sejuk sebagai saudara satu rahim.
Saat malam tiba, rupanya rembulan juga ikut-ikutan jengah, dan enggan menurunkan sinarnya karena awan berebut muncul menyaksikan pertarungan dua saudara tropis itu. Gema sangkakala berbunyi sahut menyahut, seperti wasit dengan peluitnya yang menyerukan supaya percekcokan itu berhenti. Namun akibatnya sebagian plankton terbangun dari mati surinya. Mereka berlarian timbul tenggelam tiada mau lagi menghuni isi perut biantang laut. Terus jadi apa ikan-ikan di laut nanti? Menghilang,dan menjadi tiada? Atau ada hanya untuk menjadi tiada...?
Namun ada satu penonton yang terus saja tersenyum. Perubahan... Sang perubahan tersenyum-senyum menatap pengaruhnya yang tak terbantahkan semesta raya.
Dan saya, manusia ditengah-tengah perubahan itu menatap kosong alam yang tak lagi terbaca apa maunya, tapi mungkin lebih tepatnya alam yang mampu lagi membaca apa mau manusia. Seakan-akan penguasa alam ini adalah manusia yang mudahnya menumpahkan laut dan pasir ke daratan demi ego abadi yang tak akan terpuaskan. Galileo mungkin tidak menyangka, bahwa bulat planet bumi yang ia temukan dahulu tengah mebutuhkan sentuhan cinta tanpa syarat yang akan mendamaikan seisi alam, tidak seperti kisah rama nan egois dalam cinta eros nya terhadap sinta.
Andai tak ada pengetahuan, maka manusia tak akan menciptakan teknologi. Andai tak ada teknologi, maka yang ada hanyalah peradaban manual yang tercipta dari perpaduan keenam indra manusia. Andaipun peradaban manual tidak ada, maka manusia mungkin hanyalah sang PENERIMA, penerima seperti seorang bayi mungil yang meringkuk nyaman dalam rahim ibu, yang hanya hidup dari tali pusar saja. Tali pusar yang mengubungkannya dengan sang pemberi hidup, yang abadi, dan suci...
Salam hening, di minggu ini yang teduh...
Yogyakarta, 14 Agustus 2016
kristianaeli@gmail.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar