Minggu, 07 Agustus 2016

Tindes Art, Simple but Wow (part 2)

"Bahasa visual adalah pasti. Bahasa rasa adalah kemungkinan
Seorang seniman sejati akan mampu menikahkan bahasa visual
dengan rasa untuk melahirkan anak-anak keindahan"
- Eli Kristiana -

       Harus saya akui saat menulis Tindes Art saya menemukan kesulitan. Saya yang biasanya bisa menulis hanya dalam hitungan jam untuk sebuah blog, sekarang berhari hari baru jadi. Saya harus gonta-ganti tulisan sampai menemukan yang benar-benar pas menurut saya. Dunia seni memang bukan dunia saya, saya tidak punya pendidikan formal di bidang itu. Saya juga terbiasa menulis dengan bahan apa adanya yang saya milki, dimana tidak selalu bertanya kesana-kemari, atau rutin "mengunjungi mbah google", karena harapan saya tulisan saya ini akan lebih original, dan mengalir natural. Jadi saya memanfaatkan semua yang ada di otak saya, mengolahnya, menuangkannya dalam tulisan yang tidak hanya sekedar bacaan yang lima menit lewat dan menguap, tapi juga bisa mengendap karena layak dibaca oleh mereka yang bersentuhan langsung dengan tema tulisan yang saya buat. Jadi memang lumayan cekot-cekot sih, tapi tidak apa-apa karena saya juga sangat menikmati prosesnya.
       Baik, sekarang saya akan mencoba mengingat pertama kali saat membaca tulisan Tindes Art dalam poster yang disodorkan teman saya, dimana uniknya saya malah memperhatikan tulisan bukan gambar-gambarnya :-). Waktu itu kening saya langsung berkerut dan bertanya apa itu Tindes Art, sayang teman saya tidak menjawab dan menyuruh saya untuk datang saja (pintar juga dia hehe..). Namun karena saya tertarik untuk menganalisa, jadinya ya saya masukkan dalam labolatorium di gulungan sel otak saya, dan ini hasilnya : Disitu tertulis seni rupa, berarti ada hubungannya dengan menggambar. Lalu karena namanya Tindes yang artinya kurang lebih tindas, tekan, berarti karya seni ini tercipta dengan cara ditekan, digilas, atau dipukul. Berarti mungkin alat yang dipakai untuk menekan, menggilas, memukul itu sesuatu yang keras, atau bahan yang ditekan itu sesuatu yang keras seperti kayu, bambu, batu, atau karton tebal. Mungkin pula Tindes Art merupakan karya seni yang mengkombinasikan semua cara yang dipakai, bisa dengan menghasilkan guratan, lubang, atau patahan. Lalu dilihat dari namanya yang Tindes, yang berarti Tindas namun dalam pengucapan jawa menjadi Tindes, maka kemungkinan besar penciptanya adalah orang jawa, atau yang pernah tinggal di jawa sehingga familiar dengan bahasa jawa. 
Ya, yang diatas itu hasil dari otak-atik otak saya, yang mungkin para praktisi atau bahkan penciptanya yang membaca hasil kerja otak saya akan senyum-senyum hehe.. 
        Ternyata Tindes Art adalah karya seni yang tercipta dengan membuat gambar pada sehelai kertas karton tebal menggunakan pensil, dimana cara menggambar pensil  harus dengan PENEKANAN LEBIH, sehingga tercipta guratan atau jalur-jalur semacam sungai kecil yang mengalir sesuai pola karena penekanan itu sendiri. Jadi (mungkin) dasar itulah yang dipakai si pencipta untuk memberinya nama Tindes Art. Hasil yang didapat kurang lebih seperti cap, namun jika cap pola tulisan atau gambar menonjol keluar, maka Tindes Art sebaliknya. Yang menarik bagi saya kemudian adalah ketika pola gambar sudah jadi lalu diaplikasikan tinta warna dengan menggunakan alat berbentuk slinder dan warna sudah merata sempurna, ada proses yang saya lebih suka menyebutnya sebagai "bersih sungai", dimana kita menggambar ulang di garis gambar yang sama dengan tujuan agar tinta yang sempat masuk ke dalam jalur-jalur penekanan bisa keluar sendiri dengan mata pensil tadi. Jika semua sudah, maka tinggal dilekatkan pada kain dengan cara ditekan di dalam dua karton tebal, lalu untuk menyempurnakan tinta agar melekat, maka  sebelum pola cap dilepaskan dari kain, digunakan sendok makan dimana bagian bawah sendok yang cekung diputar-putar sambil sedikit ditekan diatas kain. Jika sudah, kain dilepaskan dari cap-capan dan diangin-anginkan.
       Yang saya suka dari Tindes Art adalah, seni ini mampu mematahkan  anggapan bahwa untuk mencipta suatu karya yang menarik itu harus dengan cara rumit, dengan bahan yang kadang susah dicari. Namun disini yang dibutuhkan hanyalah karton tebal, pensil, tinta cetak,  sendok makan, dan kain atau kertas sebagai media kreasi. Sederhana sekali namun juga unik. Hasilnya wow, menarik sekali. Saya sampai hari ini masih saja memandang lembaran kain hasil karya saya dengan berdecak kagum. Saya masih berpikir apakah akan saja jadikan dompet, saya jahit di tas, saya pigura, atau yang lainnya saya belum tahu, namun yang jelas saat ini saya masih ingin memandangnya dalam lembaran kain seperti saat saya membuatnya. Saya juga punya keinginan untuk membuatnya sendiri dan mungkin kelak mengajari orang lain membuat Tindes Art karena rasanya menyenangkan sekali bisa membagi ilmu baru kepada orang lain. Dibagian bawah tulisan ini, saya menyertakan satu contoh hasil Tindes Art yang menurut saya bagus sekali.
       Tindes Art lebih dari sekedar seni yang berhubungan dengan sebuah obyek mati, tapi juga seni kehidupan manusia. Ada fase kosong (kertas karton kosong), fase penggambaran nasib (penggambaran pola), fase pembelajaran (penekanan pola), fase anugrah  (pewarnaan), fase penyucian (pembersihan pola garis dari tinta), dan fase kesempurnaan (Tindes Art yang telah jadi). Saya tidak tahu apakah penciptanya menyadari hal ini atau tidak, namun coba kita yang pernah  membuat Tindes Art ini merenungkan hal itu. Bukan untuk menjadi orang sempurna, tapi menjadi orang biasa (sederhana), tapi hebat (wow), karena Tindes Art mampu menggabungkan kedua hal tersebut.
Salam kreatif ! 

Yogyakarta, 7 Agustus 2016
kristianaeli@gmail.com
      
      



Tidak ada komentar:

Posting Komentar