Kamis, 04 Agustus 2016

Tindes Art At GBM (part 1)

       Akhir Juli kemarin ada seorang teman yang mengajak saya untuk mengikuti acara workshop seni rupa Tindes Art bersama Tindes Art & friends teman-teman ISI Yogyakarta di GBM. Saya tidak tahu apa itu Tindes Art,  tapi teman saya yang merupakan salah satu panitia menyuruh untuk ikut saja. Ya sudah saya ikut walau  sebenarnya saya tidak terlalu tertarik ikut workshop-workshop seperti itu. Saya lebih suka ikut pelatihan-pelatihan ketrampilan yang sangat perempuan sekali seperti merangkai bunga, membuat boneka, menyulam, masak, dll. Sepertinya seni itu lebih cocok untuk laki-laki, karena mungkin pakai cat, paku, cutter dsb. Biasanya orang-orang ISI kan sering buat yang aneh-aneh. Namun akhirnya saya tetap mantap datang, saya anggap tambah ilmu baru dan menuh-menuhin tempat. Kasihan kan temen saya kalau peserta yang datang cuma sediki :-).
      Jam setengah sebelasan saya baru sampai acara, yang artinya saya sudah terlambat dan ketinggalan penjelasan mengenai asal muasal Tindes Art, tapi tidak apa-apa toh yang penting prakteknya. Sayapun segera mengambil tempat duduk di baris  belakang, pojok dan mengamati semua. Ternyata benar perkiraan saya, Tindes Art memakai salah satu yang saya sebut diatas  : cat, wuaduh... Sudah begitu saya pikir peserta umum lain banyak, ternyata saya peserta paling dewasa, sedang rata-rata anak-remaja, dan hanya beberapa saja sepertinya anak kuliahan awal. Tapi tidak apa-apalah, sudah sampai tempat masa pulang...
       Pertama kali yang paling menarik bagi saya adalah si pengajar yang menjelaskan mengenai cara pembuatan Tindes Art. Beliau  berambut pendek, rambut dikuncir asal, lalu body languagenya sangat santai, cuek, dan bertato! Wah serem amat mas.., agak negatif thinking nih tentang beliau, namun belakangan saya tahu kalau beliau itu ternyata seorang dosen! Dalam hati saya meminta maaf kepada beliau, karena salah sangka, namun itu membuat saya paham bahwa bagi seorang dosen seni yang terpenting adalah pengajarannya, karyanya, bukan penampilannya. Orang yang saya amati kemudian adalah seorang  laki-laki yang mungkin lebih tepat disebut asisten si pak dosen. Rambut panjang sedikit dibawah kuping, digerai, bercelana pendek, dan lebih kalem dalam semua hal. Nah ini dia nanti orang yang tepat untuk saya bertanya banyak tentang Tindes Art, buat saya lebih nyaman untuk meminta bantuan. Perhatian saya kemudian beralih ke teman saya yang mondar mandir motret sana motret sini, ngurus snack dan minuman, wah kasihan juga,  ingin saya bantu urus makan dan minum tapi status saya peserta workshop yang harusnya belajar bukan ikut jadi seksi sibuk. Jadi ya saya biarkan saja hehe.. Namun sayapun seharusnya harus meminta maaf padanya karena berkali-kali menyusahkan dengan memangilnya datang untuk bertanya, dan berkali-kali pesan  agar jangan memotret saya karena saya tidak suka difoto. Dan ia berkali-kali hanya bilang, "Nggih", mengangguk-angguk, dan senyum. .  Kemudian ada satu cewek juga sepertinya anak kuliahan yang berkali-kali membantu saya dalam proses menggambar. Makasih ya... :-).  Lalu terakhir, beberapa cowok anak-kuliahan sepertinya yang saya tidak bisa membedakan mereka ini murni peserta atau teman-teman yang disebut Tindes Art & Friends. Mereka duduk diam,  cuek, dan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Wah serius amat ... Dalam pandangan saya sepertinya mereka anak-anak muda yang menyukai seni yang lebih kontemporer, terlihat dari cara mereka berpenampilan, tapi ya saya tidak tahu pasti karena saya hanya mengamati saja.
       Di tengah acara, saya ditawari untuk membantu mengajarkan cara menjahit tangan hasil karya Tindes Art. Saya tidak mengiyakan, namun juga sebenarnya tidak menolak. Selain soal waktu yang saya tidak tahu apakah bisa  (akhir-akhir ini saya banyak acara di hari minggu) juga  karena menurut saya tidak semua peserta workshop terutama laki-laki mau dan mampu menjahit dengan tangan untuk mebuat dompet misalnya.  Lagipula agak aneh rasanya kalau saya mengajari laki-laki menjahit dengan tangan :-).
       Namun dari sekian banyak hal yang terjadi dalam acara workshop, ada satu pengaruh yang luarbiasa pada diri saya, dimana saya menyadari ada satu jiwa seni saya yang bergolak, mengenali satu dunia yang sebenarnya dunia saya sekali, yaitu dunia seni, seni dalam merangkai kata. Sekian lama pikiran saya tertutup tembok yang saya buat sendiri, bahwa saya tidak punya darah seni, saya tidak suka seni, saya tidak suka bergaul dengan orang-orang seni karena kadang-kadang mereka aneh, bahwa dunia seni itu liar, dsb. Selalu hal  negatif. Tapi beberapa hari ini semua itu berubah, dan itu dimulai ketika saya mau membuka diri untuk mengikuti sebuah workshop seni  yaitu Tindes Art At GBM yang membuat saya benar-benar ter"Tindes" oleh Art.
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar