Minggu, 27 November 2016

Tindes Art and Friends (part 3)


Aku menyebutmu anak-anak keindahan
Berbaris rapi turun ke punggung bumi
Dalam jentikan helai cahaya bersayap
Satu-satu menjelma serupa bening mata fajar
Kupahami kau dalam balutan kabut
Hingga kucintai kau dalam tawar titik embun
Leburlah dalam jiwaku...
Kan kutahbiskan menjadi nafas baruku
Dan kunamai kau sebagai EMBRIO SENI ...
- Eli Kristiana -

     Usai menulis Tindes Art part 1 dan part 2, saya tidak punya niatan untuk melanjutkannya sampai part 3. Saya pikir tulisan kemarin sudah cukup mengupas Tindes Art dalam sudut pandang saya. Tetapi ketika mengamati lembaran kain karya Tindes Art tersebut, rasanya sayang jika tidak menuliskannya sampai selesai proses pembuatan berupa sebuah produk jadi. Hanya ternyata ketika produk sudah jadi, mood menulis saya sedang sangat turun, jadilah baru sekitar dua bulan kemudian tulisan ini baru mampu saya selesaikan. Tidak apa-apalah, yang penting jadi, dan mudah-mudahan bisa menjadi bahan referensi semua penggiat Tindes Art.
      Saat memutuskan lembaran kain tersebut akan dijadikan apa, yang tertanam jelas di benak saya adalah saya ingin membuat karya yang tidak dengan mudah ditebak orang. Kalau kaus, tas, dompet, saya rasa sudah biasa. Harus saya akui saya punya idealisme sendiri, dimana karya saya nanti selain berbeda juga harus sesuai dengan tema dua tulisan saya yang kemarin, memuat unsur sederhana, ada cerita utuh didalamnya, dan memuat filosofi kehidupan. Namun yang paling penting memanfaatkan bahan apa adanya di rumah. Saya tertantang untuk membuktikan kemampuan saya tersebut walau yang ini tidak saja membuat cekot-cekot tapi juga puyeng. :-)
Saya beruntung, sedari kecil saya suka mengutak-atik semua yang serba kain, jadi hal tersebut sangat membantu saya dalam berkarya. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk membuat sebuah gantungan pintu.
     Beberapa kesulitan yang saya temui yaitu kain blacu adalah kain dengan jenis serat yang kaku, dan jika tidak berhati-hati dalam memperlakukan kain terutama dalam proses menjahit, maka akan menimbulkan lubang-lubang bekas jarum yang sulit hilang. Kainnya sulit rapi. Hasil gambar sayapun jauh dari sempurna, dengan kemampuan menggambar seadanya, dimana hanya beberapa tangkai bunga, lalu matahari yang bersinar dan beberapa binatang bersayap. Garis-garis gambarpun ada yang tidak rapi, dobel, tidak tegas, bahkan ada yang tidak nampak. Hal tersebut   karena saya sempat grogi waktu proses pembersihan tinta. Namun semua ketidaksempurnaan tersebut justru memunculkan inspirasi untuk memasukkan tambahan-tambahan di dalam karya saya nanti, alias "mengundang bala bantuan" untuk menyempurnakannya, dan memperindah, yang saya sebut Tindes Art and Friends.
     Gambar Tindes Art saya letakkan sebagai centering point karena itu yang paling utama. Bagian atas dan bawah saya gulung yang hasilnya menyerupai sebuah panggung pertunjukan. Ide tersebut muncul saat saya membawa pulang karya saya dulu saya diberitahu untuk menggulung kain ke dalam karena tinta belum sepenuhnya kering. 
Supaya gulungan kokoh, saya memanfaatkan batang  tabung plastik yang ada dalam setiap  benang jahit, lalu saya jahit belakangnya supaya kuat. Lalu serat-serat benang yang ada pada tepi kain kanan kiri saya tarik satu persatu supaya rapi. Langkah selanjutnya saya menempatkan satu boneka flanel dengan karangan bunga di dadanya yang beberapa waktu yang lalu saya buat dengan cara menjahitnya. Saya mengibaratkannya sebagai sosok seniman si pembuat Tindes Art yang gambarnya dipasang di sampingnya. Karangan bunga adalah lambang penghargaan atas karyanya tersebut. Kemudian untuk mengisi kekosongan di sebelah kanan, saya membuat tulisan Tindes Art dengan jahit tangan. Sengaja tulisan saya buat tanpa pola untuk menguatkan kesan alaminya. Saya memilih benang warna merah dan biru karena saya perhatikan warna-warna tersebut yang paling sering dipakai dalam Tindes Art. Di bawah tulisan, saya memasang hiasan dari flanel semacam bunga yang helainya seakan berputar ditiup angin. Yang terakhir saya memasang gantungan diatasnya. Gantungan tersebut terbuat dari gantungan kunci dimana rantainya saya sambung supaya lebih panjang. Sebenarnya semua sudah jadi, tapi ketika karya itu digantungkan, muncul masalah pada keseimbangannya, dimana sebelah kiri ternyata lebih berat dari kanan. Jadilah saya menggunakan magnet kecil sebagai pemberat  di sisi kanan yang saya sisipkan dalam gulungan supaya seimbang.
     Karya saya ini memuat filosofi tentang kehidupan seniman. Seorang seniman ibarat selalu ada di atas panggung pertunjukan dengan penghargaan-penghargaan yang diterimanya, artinya dia ada di sisi kesuksesannya, kegemerlapannya, dihargai, dikagumi karya-karyanya. Tapi di sisi kanan ada "pemberat", roda kehidupan (bunga berputar), garis-garis nasib (tulisan Tindes Art). Dia  harus eling (ingat), bahwa tidak ada kesuksesan yang abadi. Karya-karyanya pun juga bisa jadi sarana "penindas" kebahagiannya karena roda hidup akan selalu berputar. Angin badai bisa meniupnya, terlempar ke sisi bawahnya. Disinilah pentingnya menempatkan Sang Pusat, Sang Sumber Utama Keindahan, Sang Pencipta alam semesta di tengah-tengah panggung kehidupannya.
     Ada sebagian orang yang menganggap seni itu sangat idealis, individualis, tapi jika kita ingin karya kita semakin sempurna, maka kita harus mau membuka diri, mau bekerjasama dengan pihak lain. Menganggap diri yang paling hebat, paling kreatif, hanya akan menjauhkan diri dari kesempurnaan karya semata. Seorang seniman tetap butuh teman (bantuan) untuk membuat karya/pekerjaannya mendekati sempurna. Seperti sastrawan yang mungkin butuh ilustrator, penari yang butuh asisten tari, atau pelukis mungkin butuh orang2 yang tidak berhubungan dengan seni seperti manajer yang mengurusi market lukisannya, atau bahkan hanya sebuah dukungan penuh dari orang-orang di sekitarnya. Seniman tetap butuh bantuan manusia lain untuk berkarya, dan inilah mengapa saya memberi judul tulisan saya Tindes Art and Friends.
     Silakan mencerna, dan salam kreatif !

Yogyakarta, November 2016
kristianaeli@gmail.com

Minggu, 14 Agustus 2016

Serasa Musim Ingin Berganti Kelamin

     
Rasanya aku ingin menyobek batas cakrawala
hanya untuk sekedar mengintip kitab kehidupan ini
karena aku diambang bimbang...
- Eli Kristiana -

Hari ini perasaan saya lumayan melankolis, sehingga sayapun ingin menulis sesuatu yang sedikit lebih puitis yang agak berbeda dengan  tulisan-tulisan saya lainnya. Semua ini dimulai saat saya jengah dengan cuaca yang tidak menentu, padahal setahu saya dalam rahim ibu tropis telah ada blueprint dua musim, musim panas dan musim hujan. Musim panas mendapat jatah waktu saat mendekati pertengahan tahun hingga mendekati akhir tahun masehi, begitupun sebaliknya, dan itu perjanjian harga mati, yang dimaterai oleh si ibu tropis. Itu sudah berlangsung sejak masa berganti masa. Selalu sama. Namun tahun ini ada yang berbeda, serasa musim panas ingin berganti kelamin. Dari panas ia merayu umtuk menjadi hujan. Hujan mungkin jadi marah, sehingga ia mengguyurkan airnya yang turun belum pada waktunya. Saya jadi berpikir mungkin dewa matahari kebingungan menyaksikan sebagian planet biru yang saling bersitegang, dan  mungkin si ibu tropis yang dahulu mengandung  panas dan hujan hanya bisa tertunduk sendu. Ia tidak lagi mengingat romantisme lingga yoni dalam ikatan sucinya dengan sang kehidupan. Baginya berdamainya panas dan hujan lebih penting, karena mereka harus saling menatap sejuk sebagai saudara satu rahim.
Saat malam tiba,  rupanya rembulan juga ikut-ikutan jengah, dan enggan menurunkan sinarnya karena awan berebut muncul menyaksikan pertarungan dua saudara tropis itu. Gema sangkakala berbunyi sahut menyahut, seperti wasit dengan peluitnya yang menyerukan supaya  percekcokan itu berhenti. Namun akibatnya sebagian plankton terbangun dari mati surinya. Mereka berlarian timbul tenggelam tiada mau lagi menghuni isi perut biantang laut. Terus jadi apa ikan-ikan di laut nanti? Menghilang,dan menjadi tiada? Atau ada hanya untuk menjadi tiada...?
Namun ada satu penonton yang terus saja tersenyum. Perubahan... Sang  perubahan tersenyum-senyum menatap pengaruhnya yang tak terbantahkan  semesta raya.
Dan saya, manusia ditengah-tengah perubahan itu menatap kosong alam yang tak lagi terbaca apa maunya, tapi mungkin lebih tepatnya alam yang mampu lagi membaca apa mau manusia. Seakan-akan penguasa alam ini adalah manusia yang mudahnya menumpahkan laut dan pasir ke daratan demi ego abadi yang tak akan terpuaskan. Galileo mungkin tidak menyangka, bahwa bulat planet bumi yang ia temukan dahulu tengah mebutuhkan sentuhan cinta tanpa syarat  yang akan mendamaikan seisi alam, tidak seperti kisah rama nan egois dalam cinta eros nya terhadap sinta.
       Andai tak ada pengetahuan, maka manusia tak akan menciptakan teknologi. Andai tak ada teknologi, maka yang ada hanyalah peradaban manual yang tercipta dari perpaduan keenam indra manusia. Andaipun peradaban manual tidak ada, maka manusia mungkin  hanyalah sang PENERIMA, penerima seperti seorang bayi mungil yang meringkuk nyaman dalam rahim ibu, yang hanya hidup dari tali pusar saja. Tali pusar yang mengubungkannya dengan sang pemberi hidup, yang abadi, dan suci...
Salam hening, di minggu ini yang teduh...

Yogyakarta, 14 Agustus 2016
kristianaeli@gmail.com

Minggu, 07 Agustus 2016

Tindes Art, Simple but Wow (part 2)

"Bahasa visual adalah pasti. Bahasa rasa adalah kemungkinan
Seorang seniman sejati akan mampu menikahkan bahasa visual
dengan rasa untuk melahirkan anak-anak keindahan"
- Eli Kristiana -

       Harus saya akui saat menulis Tindes Art saya menemukan kesulitan. Saya yang biasanya bisa menulis hanya dalam hitungan jam untuk sebuah blog, sekarang berhari hari baru jadi. Saya harus gonta-ganti tulisan sampai menemukan yang benar-benar pas menurut saya. Dunia seni memang bukan dunia saya, saya tidak punya pendidikan formal di bidang itu. Saya juga terbiasa menulis dengan bahan apa adanya yang saya milki, dimana tidak selalu bertanya kesana-kemari, atau rutin "mengunjungi mbah google", karena harapan saya tulisan saya ini akan lebih original, dan mengalir natural. Jadi saya memanfaatkan semua yang ada di otak saya, mengolahnya, menuangkannya dalam tulisan yang tidak hanya sekedar bacaan yang lima menit lewat dan menguap, tapi juga bisa mengendap karena layak dibaca oleh mereka yang bersentuhan langsung dengan tema tulisan yang saya buat. Jadi memang lumayan cekot-cekot sih, tapi tidak apa-apa karena saya juga sangat menikmati prosesnya.
       Baik, sekarang saya akan mencoba mengingat pertama kali saat membaca tulisan Tindes Art dalam poster yang disodorkan teman saya, dimana uniknya saya malah memperhatikan tulisan bukan gambar-gambarnya :-). Waktu itu kening saya langsung berkerut dan bertanya apa itu Tindes Art, sayang teman saya tidak menjawab dan menyuruh saya untuk datang saja (pintar juga dia hehe..). Namun karena saya tertarik untuk menganalisa, jadinya ya saya masukkan dalam labolatorium di gulungan sel otak saya, dan ini hasilnya : Disitu tertulis seni rupa, berarti ada hubungannya dengan menggambar. Lalu karena namanya Tindes yang artinya kurang lebih tindas, tekan, berarti karya seni ini tercipta dengan cara ditekan, digilas, atau dipukul. Berarti mungkin alat yang dipakai untuk menekan, menggilas, memukul itu sesuatu yang keras, atau bahan yang ditekan itu sesuatu yang keras seperti kayu, bambu, batu, atau karton tebal. Mungkin pula Tindes Art merupakan karya seni yang mengkombinasikan semua cara yang dipakai, bisa dengan menghasilkan guratan, lubang, atau patahan. Lalu dilihat dari namanya yang Tindes, yang berarti Tindas namun dalam pengucapan jawa menjadi Tindes, maka kemungkinan besar penciptanya adalah orang jawa, atau yang pernah tinggal di jawa sehingga familiar dengan bahasa jawa. 
Ya, yang diatas itu hasil dari otak-atik otak saya, yang mungkin para praktisi atau bahkan penciptanya yang membaca hasil kerja otak saya akan senyum-senyum hehe.. 
        Ternyata Tindes Art adalah karya seni yang tercipta dengan membuat gambar pada sehelai kertas karton tebal menggunakan pensil, dimana cara menggambar pensil  harus dengan PENEKANAN LEBIH, sehingga tercipta guratan atau jalur-jalur semacam sungai kecil yang mengalir sesuai pola karena penekanan itu sendiri. Jadi (mungkin) dasar itulah yang dipakai si pencipta untuk memberinya nama Tindes Art. Hasil yang didapat kurang lebih seperti cap, namun jika cap pola tulisan atau gambar menonjol keluar, maka Tindes Art sebaliknya. Yang menarik bagi saya kemudian adalah ketika pola gambar sudah jadi lalu diaplikasikan tinta warna dengan menggunakan alat berbentuk slinder dan warna sudah merata sempurna, ada proses yang saya lebih suka menyebutnya sebagai "bersih sungai", dimana kita menggambar ulang di garis gambar yang sama dengan tujuan agar tinta yang sempat masuk ke dalam jalur-jalur penekanan bisa keluar sendiri dengan mata pensil tadi. Jika semua sudah, maka tinggal dilekatkan pada kain dengan cara ditekan di dalam dua karton tebal, lalu untuk menyempurnakan tinta agar melekat, maka  sebelum pola cap dilepaskan dari kain, digunakan sendok makan dimana bagian bawah sendok yang cekung diputar-putar sambil sedikit ditekan diatas kain. Jika sudah, kain dilepaskan dari cap-capan dan diangin-anginkan.
       Yang saya suka dari Tindes Art adalah, seni ini mampu mematahkan  anggapan bahwa untuk mencipta suatu karya yang menarik itu harus dengan cara rumit, dengan bahan yang kadang susah dicari. Namun disini yang dibutuhkan hanyalah karton tebal, pensil, tinta cetak,  sendok makan, dan kain atau kertas sebagai media kreasi. Sederhana sekali namun juga unik. Hasilnya wow, menarik sekali. Saya sampai hari ini masih saja memandang lembaran kain hasil karya saya dengan berdecak kagum. Saya masih berpikir apakah akan saja jadikan dompet, saya jahit di tas, saya pigura, atau yang lainnya saya belum tahu, namun yang jelas saat ini saya masih ingin memandangnya dalam lembaran kain seperti saat saya membuatnya. Saya juga punya keinginan untuk membuatnya sendiri dan mungkin kelak mengajari orang lain membuat Tindes Art karena rasanya menyenangkan sekali bisa membagi ilmu baru kepada orang lain. Dibagian bawah tulisan ini, saya menyertakan satu contoh hasil Tindes Art yang menurut saya bagus sekali.
       Tindes Art lebih dari sekedar seni yang berhubungan dengan sebuah obyek mati, tapi juga seni kehidupan manusia. Ada fase kosong (kertas karton kosong), fase penggambaran nasib (penggambaran pola), fase pembelajaran (penekanan pola), fase anugrah  (pewarnaan), fase penyucian (pembersihan pola garis dari tinta), dan fase kesempurnaan (Tindes Art yang telah jadi). Saya tidak tahu apakah penciptanya menyadari hal ini atau tidak, namun coba kita yang pernah  membuat Tindes Art ini merenungkan hal itu. Bukan untuk menjadi orang sempurna, tapi menjadi orang biasa (sederhana), tapi hebat (wow), karena Tindes Art mampu menggabungkan kedua hal tersebut.
Salam kreatif ! 

Yogyakarta, 7 Agustus 2016
kristianaeli@gmail.com
      
      



Kamis, 04 Agustus 2016

Tindes Art At GBM (part 1)

       Akhir Juli kemarin ada seorang teman yang mengajak saya untuk mengikuti acara workshop seni rupa Tindes Art bersama Tindes Art & friends teman-teman ISI Yogyakarta di GBM. Saya tidak tahu apa itu Tindes Art,  tapi teman saya yang merupakan salah satu panitia menyuruh untuk ikut saja. Ya sudah saya ikut walau  sebenarnya saya tidak terlalu tertarik ikut workshop-workshop seperti itu. Saya lebih suka ikut pelatihan-pelatihan ketrampilan yang sangat perempuan sekali seperti merangkai bunga, membuat boneka, menyulam, masak, dll. Sepertinya seni itu lebih cocok untuk laki-laki, karena mungkin pakai cat, paku, cutter dsb. Biasanya orang-orang ISI kan sering buat yang aneh-aneh. Namun akhirnya saya tetap mantap datang, saya anggap tambah ilmu baru dan menuh-menuhin tempat. Kasihan kan temen saya kalau peserta yang datang cuma sediki :-).
      Jam setengah sebelasan saya baru sampai acara, yang artinya saya sudah terlambat dan ketinggalan penjelasan mengenai asal muasal Tindes Art, tapi tidak apa-apa toh yang penting prakteknya. Sayapun segera mengambil tempat duduk di baris  belakang, pojok dan mengamati semua. Ternyata benar perkiraan saya, Tindes Art memakai salah satu yang saya sebut diatas  : cat, wuaduh... Sudah begitu saya pikir peserta umum lain banyak, ternyata saya peserta paling dewasa, sedang rata-rata anak-remaja, dan hanya beberapa saja sepertinya anak kuliahan awal. Tapi tidak apa-apalah, sudah sampai tempat masa pulang...
       Pertama kali yang paling menarik bagi saya adalah si pengajar yang menjelaskan mengenai cara pembuatan Tindes Art. Beliau  berambut pendek, rambut dikuncir asal, lalu body languagenya sangat santai, cuek, dan bertato! Wah serem amat mas.., agak negatif thinking nih tentang beliau, namun belakangan saya tahu kalau beliau itu ternyata seorang dosen! Dalam hati saya meminta maaf kepada beliau, karena salah sangka, namun itu membuat saya paham bahwa bagi seorang dosen seni yang terpenting adalah pengajarannya, karyanya, bukan penampilannya. Orang yang saya amati kemudian adalah seorang  laki-laki yang mungkin lebih tepat disebut asisten si pak dosen. Rambut panjang sedikit dibawah kuping, digerai, bercelana pendek, dan lebih kalem dalam semua hal. Nah ini dia nanti orang yang tepat untuk saya bertanya banyak tentang Tindes Art, buat saya lebih nyaman untuk meminta bantuan. Perhatian saya kemudian beralih ke teman saya yang mondar mandir motret sana motret sini, ngurus snack dan minuman, wah kasihan juga,  ingin saya bantu urus makan dan minum tapi status saya peserta workshop yang harusnya belajar bukan ikut jadi seksi sibuk. Jadi ya saya biarkan saja hehe.. Namun sayapun seharusnya harus meminta maaf padanya karena berkali-kali menyusahkan dengan memangilnya datang untuk bertanya, dan berkali-kali pesan  agar jangan memotret saya karena saya tidak suka difoto. Dan ia berkali-kali hanya bilang, "Nggih", mengangguk-angguk, dan senyum. .  Kemudian ada satu cewek juga sepertinya anak kuliahan yang berkali-kali membantu saya dalam proses menggambar. Makasih ya... :-).  Lalu terakhir, beberapa cowok anak-kuliahan sepertinya yang saya tidak bisa membedakan mereka ini murni peserta atau teman-teman yang disebut Tindes Art & Friends. Mereka duduk diam,  cuek, dan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Wah serius amat ... Dalam pandangan saya sepertinya mereka anak-anak muda yang menyukai seni yang lebih kontemporer, terlihat dari cara mereka berpenampilan, tapi ya saya tidak tahu pasti karena saya hanya mengamati saja.
       Di tengah acara, saya ditawari untuk membantu mengajarkan cara menjahit tangan hasil karya Tindes Art. Saya tidak mengiyakan, namun juga sebenarnya tidak menolak. Selain soal waktu yang saya tidak tahu apakah bisa  (akhir-akhir ini saya banyak acara di hari minggu) juga  karena menurut saya tidak semua peserta workshop terutama laki-laki mau dan mampu menjahit dengan tangan untuk mebuat dompet misalnya.  Lagipula agak aneh rasanya kalau saya mengajari laki-laki menjahit dengan tangan :-).
       Namun dari sekian banyak hal yang terjadi dalam acara workshop, ada satu pengaruh yang luarbiasa pada diri saya, dimana saya menyadari ada satu jiwa seni saya yang bergolak, mengenali satu dunia yang sebenarnya dunia saya sekali, yaitu dunia seni, seni dalam merangkai kata. Sekian lama pikiran saya tertutup tembok yang saya buat sendiri, bahwa saya tidak punya darah seni, saya tidak suka seni, saya tidak suka bergaul dengan orang-orang seni karena kadang-kadang mereka aneh, bahwa dunia seni itu liar, dsb. Selalu hal  negatif. Tapi beberapa hari ini semua itu berubah, dan itu dimulai ketika saya mau membuka diri untuk mengikuti sebuah workshop seni  yaitu Tindes Art At GBM yang membuat saya benar-benar ter"Tindes" oleh Art.
 


Senin, 23 November 2015

Virus Negatif Medsos

Banyak yang heran dan bertanya kepada saya, kenapa saya jarang aktif di media sosial, padahal di zaman sekarang ini orang  yang tidak aktif di medsos dianggap ketinggalan zaman. Biasanya saya menjawab sekenanya, kadang saya jawab males, kadang saya jawab ga suka, ya jawaban yang sangat asal. Namun jawaban yang sebenarnya adalah saya tidak mau terbawa arus ego untuk selalu eksis. Saya mengamati diri saya dulu ketika awal-awal punya fb, masa senang-senang nya punya media sosial, saya seperti ingin menulis semua yang saya rasa, yang saya lihat, padahal sesungguhnya bagi orang lain itu tidak selalu penting. Saya juga mulai  ketagihan atau "gatal" untuk selalu mengomentari status teman-teman fb, entah statusnya penting atau tidak penting. Lalu saya mulai menemukan bahwa saya semakin jauh dari batas antara kebutuhan atau keinginan, padahal selalu mengomentari atau menceritakan semua hal bukanlah kebutuhan, tapi ego. Hingga suatu ketika oleh karena suatu hal saya mulai mengurangi frekuensi update status di medsos, dan saya mulai melihat lagi batas antara privasi, etika, kebutuhan yang dulu amburadul. Sejak saat itu saya memutuskan untuk benar-benar selektif di medsos. Ada sebuah tulisan yang menguatkan keputusan  saya dari Sonia Riccoti dalam bukunya "The Law of Attraction, plain and simple" yaitu,  : Setiap hari kita mendengar berita bagaimana semakin banyak orang tewas dalam perang. Saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak terpapar stimulus negatif seperti itu, karena hal itu akan mempengaruhi pikiran dan perasaan saya... 
Ya, Begitulah, diri kita akan mudah sekali terpengaruh apapun yang biasa kita lihat dan kita dengar..

Saya tidak menganjurkan orang-orang harus seperti saya, tapi minimal mampu mengerem hal-hal yang tidak penting di medsos, bisa selektif akan semua berita, tidak lagi berbicara seenak perutnya sendiri, tidak etis, ngawur, tidak mengumbar hal-hal pribadi yang harusnya disimpan untuk sendiri saja. Saya sangat setuju dengan adanya gerakan medsos yang hanya berisi ajakan untuk menulis tulisan-tulisan positif, atau yang sifatnya membangun, karena virus negatif itu akan sangat cepat menular ke ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang di dunia. Jadi mari bijak dalam ber-medsos... :-)

Yogyakarta, 2015
kristianaeli@gmail.com

Minggu, 20 September 2015

Bersama Doraemon Menggenggam Mimpi

Salah satu serial kartun yang saya sukai sejak saya masih kecil (sampai sekarang juga..:-p) adalah Doraemon. Setiap minggu pagi saya tidak pernah absen menontonnya. Jalan ceritanya yang menarik, tokoh-tokohnya yang unik dan lucu, musik khasnya doraemon yang ceria, serta matahari dan udara segar di hari minggu pagi yang indah, melekat kuat di benak saya, sehingga jadilah Doraemon identik hari mingu bagi saya.

Ketika masa anak-anak saya telah lewat dan menjadi dewasa seperti sekarang ini, jujur saya masih sangat menggemarinya. Memang saya jarang sekali menonton atau membaca komiknya karena banyak hal lain yang harus saya prioritaskan, namun jika kebetulan sedang tayang di tv atau menemukan komiknya, pasti saya ikuti. Bukan karena ingin kembali menjadi seperti anak-anak yang masih menyukai semua yang serba anak-anak suka, tapi jauh lebih besar dari itu. Konon, di usia dewasa ini kita semakin jarang tertawa dan ceria dibanding saat kita kecil, dan tontonan-tontonan ringan dan lucu seperti Doraemon akan menyehatkan psikis kita. Saya juga merasa bahagia ketika mengikuti cerita Doraemon, dan itu adalah masa bahagia yang saya rasa waktu saya masih kecil. Bahagia karena di dalam cerita Doraemon ada banyak hal yang mustahil menjadi kenyataan, lewat kantong ajaibnya, si pengabul impian.

Saat masih kecil, kita tidak pernah berpikir apakah impian-impian kita di masa depan akan  terwujud atau tidak. Yang penting bermimpi, berharap, dan selalu ceria khas anak-anak. Sudah, itu saja, sesimpel itu. Sekarang lihatlah diri kita sekarang ini, masihkah semua itu bertahan? Ada yang bertahan, ada yang tergerus realita hidup. Lalu bagaimana dengan saya, si penggemar cerita Doraemon ini? Saya sih tetap kukuh menggenggam mimpi-mimpi saya. Namun harus saya akui bahwa semakin dewasa saya semakin mengerti bahwa mimpi-mimpi saya itupun bertransformasi, menjadi lebih baik dan lebih sesuai realita, contohnya seperti dulu pernah ingin menjadi pragawati tapi tinggi cuma segini, ya sudah menggenggam mimpi yang lainnya saja, toh masih banyak. Lalu jika saya diposisikan menjadi Nobita, maka saya akan meminta Doraemon untuk mengabulkan keinginan-keinginan saya ini : Mengunjungi Jerman, Mengunjungi Papua, Membuat novel yang diangkat ke layar lebar, Berbicara di depan forum dengan ribuan penonton dll. Dan sekali lagi seperti Nobita, saya tidak akan malu meminta, dan tidak perduli banyak orang menertawakan mimpi-mimpi saya itu. Bagi saya hidup itu harus punya mimpi, harus punya harapan, karena kita tidak akan pernah tahu bahwa suatu saat nanti si "Doraemon" itu akan datang mengabulkan mimpi kita. Amin.

Yogya, 18 Okt 2015
kristianaeli@gmail.com


Rabu, 29 Juli 2015

Tanda Tanya Kecerdasan

Setiap kali pergi bersama teman-teman ke toko buku atau perpustakaan, selalu saja buku yang menarik perhatian untuk dibaca teman-teman saya adalah buku-buku test IQ, apalagi saat musim-musim penerimaan PNS. Kalau saya sih hanya sekilas pandang saja, dan memilih melewati buku-buku tersebut. Jujur saya tidak tertarik, jadi wajar jika saya tidak suka mengerjakan tes-tes IQ. Saya sih bukannya tidak menganggap tes IQ tidak penting, penting sih untuk mengukur IQ, kita tapi mengingat saya tidak tertarik untuk menjadi PNS dan sebangsanya jadi wajar kalau males soal ukur2 kecerdasan.
Lagipula saya menemukan fakta-fakta di sekitar saya bahwa IQ tinggi bukanlah satu-satunya penentu kecerdasan seseorang (secara umum). Orang yang terus-menerus belajar mengerjakan soal-soal tes IQ akan lebih mudah mengerjakannya dibanding mereka yang tidak pernah mengerjakan soal-IQ, karena faktor hapalan POLA. Soal-soal IQ disusun berdasar pola-pola penalaran. Soalnya sih berbeda, tapi polanya sama.Begitu juga orang yang terbiasa mengerjakan TTS, ia lebih cepat dan lebih jago dalam menebak kata dibanding orang cerdas yang tidak pernah mengisi TTS.

Jika kecerdasan selalu dikitkan dengan daya ingat kuat, saya juga kurang setuju, karena ada seorang temnen saya yang sejak SD sampai kuliah tergolong pintar dan mendapat nilai bagus, terang-terangan mengakui ia punya kelemahan dalam hal daya ingat, mulai dari menaruh barang-barang kecil seperti kunci motor, rute jalan, dsb. Dari situ saya simpulkan (tentu dengan cara menjadi pengamat amatiran :-)), bahwa cerdas itu tidak selalu tentang daya ingat kuat, tapi juga soal kendali atas dirinya sendiri. Teman saya itu tahu kapan waktunya menggunakan daya ingat/kecerdasan untuk hal-hal yang benar-benar penting, seperti saat ia harus belajar, dan kapan ia tidak harus selalu menggunakan daya ingatnya untuk hal-hal yang tidak terlalu penting (walau tetap juga membuat ribet :-)).

Nah sekarang bagaimana dengan saya? Sebenarnya sih saya kadang juga penasaran dengan seberapa IQ saya, tapi karena beberapa kali saya pernah mencoba menjawab soal-soal IQ dan banyak salahnya, jadi ya mungkin tidak tinggi-tinggi amat. Saya juga punya kelemahan untuk mengingat nama orang, sayapun juga tidak akan selalu mendokumentasikan semua hal di memori saya (kecuali untuk hal-hal yang menurut saya sangat amat penting). Toh orang akan bisa menilai seberapa cerdas diri kita (secara umum) bukan berdasar penilaian di atas kertas semata, tapi dari cara kita menjalani kehidupan ini setiap detik dan setiap waktu.
Jadi diterima saja berapa IQ kita, dan biarkan kita kembangkan kecerdasan non IQ kita. Itu saja.

Yogya, 29 Juli 2015
kristianaeli@gmail.com