Kemarin saya iseng-iseng membuka kumpulan puisi yg pernah saya buat beberapa waktu lalu, dan saya pilihkan 2 puisi dari beberapa puisi favorit saya..
Kepada derai hujan...
Derai hujan, apakah kau tahu aku bahagia mendengar nyanyianmu?
Rintik-rintik menyapu genting tanah liat atap rumahku
Rintik-rintik menggoyang dedaunan pandan
disamping dapurku
Rintik-rintik menyeruakkan aroma tanah
Dan rintik-rintik membangunkan hatiku yang tertidur lelap
Aku terkesima menatapmu malam ini
Kau mengajak angin menyelimutiku, dengan masa lalu yang telah lewat...
Namun ada yang berubah dibanding rintik-rintikmu yang lalu:
Ada tembok dimana aku hanya boleh mengintip masa lalu
Ya, hanya mengintip saja...
Aku rindu masa lalu, tapi apakah aku tidak boleh menyusuri
masa lalu...?
Hanya untuk menjemput mutiaraku dulu
Ya, hanya menjemputnya... dan membawanya...
Karena ku akan memakainya dalam langkah-langkah masa depanku...
Jogja 18 Jan 2010. Malam...
Untukmu Sayangku
Aku melihat binar-binar matamu
Dalam kerlip bintang di langit sana sayangku...
Aku menemukan lembut belai tanganmu
Dalam hembusan angin sore ini sayangku...
Senyummu adalah rupa pelangi
Membiaskan warna-warni dunia di hatiku...
Suaramu yang tenang
Setenang telaga dalam rimbunan hutan
Dekapanmu yang hangat
Mengalirkan hangat surya pagi
Teruslah tumbuh, bertumbuhlah dalam kedewasaanmu sayangku...
Dan aku akan terbang dengan kepakan bidadari mengelilingi indahmu...
Jogja, 23 Sept 2011
Petang di ruang tamu rumahku
Rabu, 18 Desember 2013
Minggu, 14 Juli 2013
Cita-cita, Masihkah Ada?
Ada nasihat yang mengatakan bahwa semangat itu juga bisa didapat ketika kita mereview cita-cita di masa lalu. Cita-cita yang dulu membuat mata kita berbinar-binar ketika membicarakannya, walaupun kadang tenggelam termakan realita. Nah apa saja cita-cita saya di masa lalu? Saya rangkumkan disni, karena bisa jadi cita-cita Anda dan saya sama, sehingga kitapun bisa menemukan kembali semangat yang ada di masa lalu bersama-sama.
Cita-cita pertama yang saya miliki waktu TK-awal SD adalah menjadi peragawati cilik! Betul, peragawati yang berlenggak-lenggok di catwalk. Namun saya tidak berani menceritakan ke orang lain, karena selain takut ditertawakan, saya sadar saya berasal dari keluarga sederhana, jadi mana mungkin ada biaya untuk bisa masuk ke sebuah agency. Tapi untungnya saya segera melupakan cita-cita itu, karena setelah dewasa ternyata saya tidak tingggi! hehe.. Waktu akhir SD, saya juga sempat latah teman ingin menjadi insinyur pertanian, lalu saat SMP karena saya suka sekali menggambar denah rumah, maka saya ingin menjadi arsitek. Tapi saya urungkan karena kalau masuk STM siswa perempuannya sedikit, sedang saya kan pemalu, mana mungkin bisa bergaul dengan banyak laki-laki.
Cita-cita saya selanjutnya adalah menjadi seorang Asisten Apoteker, karena menurut saya bidang farmasi adalah bidang yang bergengsi, namun tinggi saya tidak memenuhi syarat untuk masuk Sekolah Menengah Farmasi, ditambah lagi saya kurang menyukai hal-hal mengenai kimia, jadi ya saya pendam cita-cita itu. Tapi lucunya bertahun-tahun kemudian, tidak sengaja saya bisa bekerja di apotik, dimana bos saya mengharuskan saya untuk tahu tentang obat-obatan, bahkan menuntut saya untuk belajar membantu apoteker/Asisten apoteker dalam meracik obat saat banyak pasien. Wah, cita-cita yang tercapai, walau saya sendiri sudah melupakannya...
Lalu waktu kuliah saya ingin menjadi manajer, karena sesuai dengan jurusan yang saya ambil, namun belakangan saya bimbang dengan cita-cita saya tersebut, karena ternyata saya kurang menyukai dunia perkantoran dan jam kerja yang kaku. Nah ditengah masa kuliah tersebut, muncul impian baru, yaitu menjadis seorang dosen, gara-garanya tiap presentasi teman-teman selalu komentar, ih Eli kayak ibu dosen kalau sudah di depan kelas...haha.. Saya ini memang sangat menyukai dunia belajar dan mengajar, dan sangat menikmati saat-saat ketika saya berbicara di depan bayak orang mengenai hal-hal yang menjadi minat dan kompetensi saya. Hanya menjadi dosen itu harus S2, walau saya merasa mampu secara otak, tapi perjalannya masih panjang, saya sih inginnya kuliah di UGM, menjadi asisten dosen, dan akhirnya menjadi dosen di almamater saya sendiri. Sebuah cita-cita yang saya tidak tahu akan terwujud atau tidak...
Ya, cita-cita saya memang terus berubah, namun ada satu cita-cita yang terus ada yang tidak lekang oleh waktu, yaitu menjadi seorang penulis, dimana karya2 saya juga bisa ditemukan di toko-toko buku di seluruh Indonesia! Menulis memang merupakan talenta pertama yang saya tahu. Mulai dari dongeng anak-anak, puisi, cerpen dan artikel, semua saya tulis. Namun ada satu hal yang membuat saya heran, dulu saya pernah membuat sebuah artikel (yg saya tulis sendiri, saya baca sendiri, dan saya buang sendiri..hehe), dan artikel itu mengenai dunia remaja, padahal saya masih kelas 3 SD lho! hehe...kok bisa ya...
Menulis memang jiwa saya, dan profesi menulis merupakan profesi bergengsi dan memberikan kebanggaan tersendiri bagi saya. Dan yang pasti saya kan mengejar cita-cita saya tersebut, karena bagi saya tidak kata terlambat untuk menjadi penulis, dan saya akan membuktikan pada diri sendiri bahwa semangat hidup itu akan terus ada saat kita mengasah apa yang menjadi talenta kita.
Jadi salam semangat untuk saya dan Anda semua!!
Yogya, 14 Juli 2013, siang di kamarku
kristianaeli@gmail.com
Cita-cita pertama yang saya miliki waktu TK-awal SD adalah menjadi peragawati cilik! Betul, peragawati yang berlenggak-lenggok di catwalk. Namun saya tidak berani menceritakan ke orang lain, karena selain takut ditertawakan, saya sadar saya berasal dari keluarga sederhana, jadi mana mungkin ada biaya untuk bisa masuk ke sebuah agency. Tapi untungnya saya segera melupakan cita-cita itu, karena setelah dewasa ternyata saya tidak tingggi! hehe.. Waktu akhir SD, saya juga sempat latah teman ingin menjadi insinyur pertanian, lalu saat SMP karena saya suka sekali menggambar denah rumah, maka saya ingin menjadi arsitek. Tapi saya urungkan karena kalau masuk STM siswa perempuannya sedikit, sedang saya kan pemalu, mana mungkin bisa bergaul dengan banyak laki-laki.
Cita-cita saya selanjutnya adalah menjadi seorang Asisten Apoteker, karena menurut saya bidang farmasi adalah bidang yang bergengsi, namun tinggi saya tidak memenuhi syarat untuk masuk Sekolah Menengah Farmasi, ditambah lagi saya kurang menyukai hal-hal mengenai kimia, jadi ya saya pendam cita-cita itu. Tapi lucunya bertahun-tahun kemudian, tidak sengaja saya bisa bekerja di apotik, dimana bos saya mengharuskan saya untuk tahu tentang obat-obatan, bahkan menuntut saya untuk belajar membantu apoteker/Asisten apoteker dalam meracik obat saat banyak pasien. Wah, cita-cita yang tercapai, walau saya sendiri sudah melupakannya...
Lalu waktu kuliah saya ingin menjadi manajer, karena sesuai dengan jurusan yang saya ambil, namun belakangan saya bimbang dengan cita-cita saya tersebut, karena ternyata saya kurang menyukai dunia perkantoran dan jam kerja yang kaku. Nah ditengah masa kuliah tersebut, muncul impian baru, yaitu menjadis seorang dosen, gara-garanya tiap presentasi teman-teman selalu komentar, ih Eli kayak ibu dosen kalau sudah di depan kelas...haha.. Saya ini memang sangat menyukai dunia belajar dan mengajar, dan sangat menikmati saat-saat ketika saya berbicara di depan bayak orang mengenai hal-hal yang menjadi minat dan kompetensi saya. Hanya menjadi dosen itu harus S2, walau saya merasa mampu secara otak, tapi perjalannya masih panjang, saya sih inginnya kuliah di UGM, menjadi asisten dosen, dan akhirnya menjadi dosen di almamater saya sendiri. Sebuah cita-cita yang saya tidak tahu akan terwujud atau tidak...
Ya, cita-cita saya memang terus berubah, namun ada satu cita-cita yang terus ada yang tidak lekang oleh waktu, yaitu menjadi seorang penulis, dimana karya2 saya juga bisa ditemukan di toko-toko buku di seluruh Indonesia! Menulis memang merupakan talenta pertama yang saya tahu. Mulai dari dongeng anak-anak, puisi, cerpen dan artikel, semua saya tulis. Namun ada satu hal yang membuat saya heran, dulu saya pernah membuat sebuah artikel (yg saya tulis sendiri, saya baca sendiri, dan saya buang sendiri..hehe), dan artikel itu mengenai dunia remaja, padahal saya masih kelas 3 SD lho! hehe...kok bisa ya...
Menulis memang jiwa saya, dan profesi menulis merupakan profesi bergengsi dan memberikan kebanggaan tersendiri bagi saya. Dan yang pasti saya kan mengejar cita-cita saya tersebut, karena bagi saya tidak kata terlambat untuk menjadi penulis, dan saya akan membuktikan pada diri sendiri bahwa semangat hidup itu akan terus ada saat kita mengasah apa yang menjadi talenta kita.
Jadi salam semangat untuk saya dan Anda semua!!
Yogya, 14 Juli 2013, siang di kamarku
kristianaeli@gmail.com
Sabtu, 06 Juli 2013
Radio Saku, Sang Pahlawan
Bagi saya, radio memiliki daya tarik tersendiri dibanding hiburan lainnya. Ketika saya butuh semangat, sedang jenuh, mencari inspirasi, pasti saya menyalakan radio, dan tangan ini mencari siaran-siaran yang sesuai dengan mood saat itu. Kadang sambil menulis, membaca, atau hanya tiduran saja sambil memandang ke luar jendela. Radio tetap jauh lebih menarik dari MP3 karena kita kadang tidak tahu lagu apa yang akan diputar, jadi selalu ada surprise yang menyenangkan.
Radio pulalah yang membuka mata saya bahwa teknologi konvensional, terutama dari sebuah radio batu kadang jauh lebih baik daripada teknologi modern. Dan saya ingin membagi cerita kecil tentang sebuah radio saku, radio mungil dengan batu tripel A yang menjadi salah satu pahlawan saya saat peristiwa gempa Yogya 2006 lalu.
Beberapa bulan sebelum gempa, Bapak saya memberikan radio saku untuk saya. Heran saya, ternyata radio sekecil itu dengan baterai masih ada to.. zamannya sekarang kan radio dengan listrik.. Kata Bapak, ada orang yang promosi, karena lumayan murah dan Bapak tahu kalau saya suka sekali mendengarkan radio, maka Bapak membelikannya untuk saya. Radio tersebut hampir setiap hari saya dengarkan hingga batunya habis, dan sempat selama sebulan tidak saya isi,.
Anehnya, beberapa hari sebelum gempa, entah kenapa saya ingin sekali mengisi radio tresebut dengan baterai,mungkin juga itu sebuah "tanda".
Nah ketika ada isu tsunami, barang yang saya bawa adalah dompet, jaket, hp, dan radio saku! Heran juga saya kenapa kok saya bawa radio saku. Tapi saya ingat2 sepertinya saya berpikir siapa tahu ada info tentang gempa. Dan apa yang saya pikirkan itu ternyata benar, ada siaran radio yaitu radio sonora yg merupakan satu2nya radio yg terus siaran dan menghimpun informasi dari seluruh penjuru Yogya, sehingga ketika isu2 berlangsung, dan banyak orang ketakutan, bingung, dengan kabar yang simpang siur, saya merasa tenang2 saja, ya karena saya mendengarkan radio saku yang terus saya genggam di tangan. Bahkan saya ingat, saya sempat dibentak Bapak saya karena saya tidak mau disuruh mengungsi..hehe...
Ada satu kebanggan yang tetap saya ingat sampai detik ini yaitu ketika Bapak saya mengatakan bahwa dari seluruh keluarga, hanya sayalah yang paling tatag ( kuat) menghadapi gempa dan isu tsunami. Wah senang rasanya...
Sejak saat itu saya tidak mau meremehkan sebuah radio batu, radio yang mungkin sudah agak langka di kota2 besar, namun kehadirannya laksana sosok pahlawan yan melebihi kekuatan teknologi modern.
Jogja, Juni 2013
Radio pulalah yang membuka mata saya bahwa teknologi konvensional, terutama dari sebuah radio batu kadang jauh lebih baik daripada teknologi modern. Dan saya ingin membagi cerita kecil tentang sebuah radio saku, radio mungil dengan batu tripel A yang menjadi salah satu pahlawan saya saat peristiwa gempa Yogya 2006 lalu.
Beberapa bulan sebelum gempa, Bapak saya memberikan radio saku untuk saya. Heran saya, ternyata radio sekecil itu dengan baterai masih ada to.. zamannya sekarang kan radio dengan listrik.. Kata Bapak, ada orang yang promosi, karena lumayan murah dan Bapak tahu kalau saya suka sekali mendengarkan radio, maka Bapak membelikannya untuk saya. Radio tersebut hampir setiap hari saya dengarkan hingga batunya habis, dan sempat selama sebulan tidak saya isi,.
Anehnya, beberapa hari sebelum gempa, entah kenapa saya ingin sekali mengisi radio tresebut dengan baterai,mungkin juga itu sebuah "tanda".
Nah ketika ada isu tsunami, barang yang saya bawa adalah dompet, jaket, hp, dan radio saku! Heran juga saya kenapa kok saya bawa radio saku. Tapi saya ingat2 sepertinya saya berpikir siapa tahu ada info tentang gempa. Dan apa yang saya pikirkan itu ternyata benar, ada siaran radio yaitu radio sonora yg merupakan satu2nya radio yg terus siaran dan menghimpun informasi dari seluruh penjuru Yogya, sehingga ketika isu2 berlangsung, dan banyak orang ketakutan, bingung, dengan kabar yang simpang siur, saya merasa tenang2 saja, ya karena saya mendengarkan radio saku yang terus saya genggam di tangan. Bahkan saya ingat, saya sempat dibentak Bapak saya karena saya tidak mau disuruh mengungsi..hehe...
Ada satu kebanggan yang tetap saya ingat sampai detik ini yaitu ketika Bapak saya mengatakan bahwa dari seluruh keluarga, hanya sayalah yang paling tatag ( kuat) menghadapi gempa dan isu tsunami. Wah senang rasanya...
Sejak saat itu saya tidak mau meremehkan sebuah radio batu, radio yang mungkin sudah agak langka di kota2 besar, namun kehadirannya laksana sosok pahlawan yan melebihi kekuatan teknologi modern.
Jogja, Juni 2013
Sabtu, 15 Juni 2013
Lika Liku a Lady...
Wanita, makhluk yang diciptakan indah dan memilki pesona yang menggoda kaum laki-laki. Kehadirannya selalu digambarkan secantik bunga, dan di tangannyalah akan muncul generasi2 yang membuat dunia menjadi baik atau buruk di masa depan. Pengaruhnya luar biasa sekali bukan?
Namun, menjadi seorang wanita juga tidak mudah. Ketidakstabilan emosi merupakan salah satu faktor yang menjadikan wanita lebih lemah dibanding laki-laki. Bagai roller coaster, emosi sering naik turun tanpa bisa diprediksi. Di satu waktu ia bisa merasa tangguh dan bersemangat, tapi di waktu lain ia bisa merasa sangat rapuh. Sensitif, merupakan bagian dari dirinya, dimana perasaan berada pada urutan pertama dibanding logika. Air mata adalah salah satu cara yang digunakan untuk membuat perasaannya nyaman. Coba perhatikan, seorang wanita jika sangat marah, sangat sedih, atau sangat gembira pasti lebih banyak menangis.
Berbeda dengan kaum laki-laki yang sudah dari "sononya" pribadi kuat, wanita itu kuat karena sebuah alasan. Jika ia seorang ibu, maka anak-anak dan keluarganyalah yang membuat ia kuat. Jika ia seorang wanita karir, maka jabatan dan posisinyalah yang menjadikan ia kuat, atau bisa jadi kehidupanlah yang menjadikan ia wanita kuat. jadi pasti selalu ada alasan dibalik kuatnya seorang wanita...
Ribet, lebih boros, itulah wanita. Ada banyak kebutuhan non primer yang ia belanjakan. Iapun lebih sering merasakan sakit serta kekurangnyamanan sepanjang hidupnya. Mulai dari sakit datang bulan, sakit saat hamil muda, saat proses melahirkan, menjalani masa nifas, menyusui, merawat anak, merasakan efek KB, hingga menopouse. Semua masa2 berat itu menjadikan wanita selalu membutuhkan rasa aman dan perlindungan dari lingkungannya.
Selain memiliki jam malam, wanita juga memiliki jam biologis. Di umur tertentu ia sudah harus mendapat menstruasi, umur sekian ia sudah harus menikah, umur sekian sampai sekaian harus punya anak, lalu berhenti punya anak di umur sekian, seolah-olah dunia sudah mengatur siklus kehidupannya.
Wanita yang sudah menikahpun memilki pekerjaan 24jam sehari, 7 hari semingu, alias tanpa libur seumur hidupnya untuk mengurus suami, anak, mengurus karir (bagi yg berkarir). Hufff....
Itulah sedikit dari banyak hal tentang wanita. Tapi dibalik semua tugas berat menjadi seorang wanita, saya tetap bersyukur dan bangga dilahirkan sebagai seorang wanita. Dan setelah menikah, saya ingin seperti ibu saya, seorang ibu rumah tangga namun memiliki penghasilan non formal dengan waktu yang fleksibel. Selain saya nantinya bisa mengurus keluarga (dan terutama tetap cantik utk suami saya ;-) ), saya pun punya kegiatan sebagai sarana aktualisasi diri yang menambah pemasukan keluarga, sehingga tidak terlalu pusing2 amat saat harga barang2 naik...hehe..
Lalu jika diluar sana ada pernyataan laki-laki yang menyatakan bahwa wanita itu makhluk yang sukar dimengerti, maka jawaban saya begini, "Jangankan laki-laki yag sukar mengerti wanita, wanita saja sukar mengerti dirinya sendiri mas,....wahaha...."
Senin, 10 Juni 2013
Sebuah Nama, sebuah cerita?
Apalah arti sebuah nama, ya itu benar, tapi nama saya sangat berarti bagi saya walau menurut Bapak Ibuk saya nama saya tidak mengandung arti apapun, hehe.. (berbeda dengan kedua kakak saya..). Sebenarnya jika boleh memilih, saya suka sekali dengan penggabungan nama sansekerta dan jawa, kelihatan bermakna sekali, tapi tetap saya syukuri nama saya krn itu adalah pemberian orangtua saya, dan wujud hormat saya kepada mereka sehingga saya tidak pernah mau dpanggil dengan nama lain selain Eli Kristiana.
Nah, ada hal menyebalkan yg sering saya alami dari zaman SD sampai kuliah, dimana beberapa kali pegawai administrasi salah mengetik atau menulis Eli Kristiana dengan Eli Kristiani. masa sih mereka tidak bisa membedakan antara huruf A dan I ? Pernah juga banyak yang tulis dengan ejaan asing, seperti Elly Christiana, waduh pak, panggilan sama tapi ejaan beda tetap bukan saya pak...
Ketika kenal dengan teman2 baru di zaman sekolah, ada juga yang mau panggil saya dengan kristi, atau tia atau ana... upss langsung saya tolak, itu bukan nama panggilan saya konco2, tapi yang paling menyebalkan adalah ada teman yang memanggil saya dengan lik, bukannya el atau li. Padahal lik kalau digabung dengan e menjadi elik! Wah kurang ajar benar teman saya itu ..wahahaha... saya kan tidak elik, tapi manis....suit suit...
Soal nama, ada yg unik nih dalam keluarga saya. Ibuk saya bernama Hartini, dengan adik kandung bernama Hartono, dan ibuk saya punya adik ipar (bulik saya) bernama Sutini, dan 2 adik ipar lagi dengan nama2 yang hampir mirip dengan nama Hartini... haha...entahlah kok bisa padahal tidak disengaja..
Saya juga punya teman SD yang punya nama Cinta Setya **, ya bisa ditebaklah artinya, namun ada satu nama yang menurut saya langka sekali milik salah seorang mahasiswa asal Indonesia Timur, yaitu Maria Sakit! Beneran, saya juga kaget sekali, entahlah apa artinya...hehe...
Bicara soal nama, orangtua dulu dan sekarang memang memiliki selera yang berbeda, kalau dulu nama2 yang (mohon maaf) ndeso, seperti Paimin, Paijo, Bejo sangatlah populer, tapi anak2 sekarang punya nama2 yang mengadaptasi nama luar, seperi laudya, michael, maya, yah pokoknya nama2 kerenlah. Bahkan byk pula yang memberi nama2 yang aneh2 yang buat orang akan tertawa atau mengernyitkan dahi mendengarnya. Memang sih sah2 saja, adalah hak orangtua untuk memberi nama apapun, namun menurut saya dengan memberikan nama yg terlalu aneh bukankah akan memberikan beban tersendiri bagi si anak kelak? Ya kalau sia anak sangat percaya diri dengan namanya sih tidak masalah, tapi kalu tidak?
Memang apalah arti sebuah nama, tapi kita akan dikenal dan dikenang orang karena sebuah nama pada diri kita, jadi mau diberi nama apapun, mari kita hormati nama kita, karena kalau bukan kita yang menghormati nama kita, lalu siapa lagi?
Jogja, 8 Juni 2013, habis petang dkamarku..
Minggu, 02 Juni 2013
Sebuah Ketakutan...
Banyak dari kita memiliki ketakutan tertentu akan sesuatu atau sebuah hal. Dan ketakutan tersebut ada yang dalam batas wajar, menengah, sampai parah. Contohnya ada teman saya yang sangat ketakutan dengan kucing, hanya gara-gara ia pernah digigit kucing waktu kecil, padahal kucing itu bagi kebayakan orang adalah binatang lucu dan manja. Ada juga yang takut dengan tokek sampai-sampai melihat di tv pun ia tidak mau, kemudian ada juga takut akan ketinggian, takut berada di tempat sempit, dan banyak lainnya.
Nah kalau saya, saya tidak memiliki ketakutan berlebihan menyangkut binatang tertentu, ya kalau sejenis ulat, cacing, dan ular sih wajar ya jika saya takut, karena itu binatang yg membuat mayoritas wanita menjerit hiiiii.... hehe.... Namun ada trauma unik pada diri saya nih, yaitu saya trauma menusuk daging sapi/kambing dengan tusukan bambu, gara-garanya sih beberapa tahun yang lalu tangan saya pernah tertusuk tusukan sate waktu mau membuat sate sapi, waktu itu tangan saya sampai infeksi, sakitnya minta ampun, dan lama sembuhnya. Sejak saat itu saya kapok, dan benar-benar tidak mau ditugasi bagian tusuk menusuk daging sapi/kambing dengan tusukan bambu. Beberapa waktu yg lalu sebenarnya saya pernah untuk mencoba lagi, karena saya pikir itu kan sudah beberapa tahun berlalu, dan masak sih saya memelihara trauma itu, dan memang saya coba dan bisa, tapi cuma tahan satu tusuk sate saja karena tangan saya rasa-rasanya kesemutan, pegal, berdesir tidak nyaman, dan kebayang-bayang luka dulu...wis pokoke masih kapok, dan saya belum mau untuk mencobanya lagi sampai detik ini ....
Selain soal persatean, ada lagi ketakutan saya, yaitu masuk gua! Ceritanya waktu SD saya pernah piknik ke gua Jatijajar, dan itu pengalaman pertama masuk gua. Sampai di dalam bukannya rasa senang karena bisa melihat pemandangan dalam goa tapi yang ada hanya rasa takut, bukan takut dengan hantu atau apa, tapi takut kalau sewaktu-waktu gua runtuh, atau lampu mati, dan saya tidak bisa bernafas di dalamnya, tidak bisa melihat matahari, dan sebangsanya, apalagi melihat sungai bawah tanah yg ada arusnya, waduh-waduh bagaimana kalau saya terpeleset dan jatuh, pikir saya waktu itu, pokoknya yg ada perasaan saya cemas, tidak tenang, takut, dan ingan rasanya2 cepat-cepat keluar, saya sampai heran dengan banyak pengunjung yg sangat menikmati suasana gua dengan berfoto-foto, sedang saya yang penting berjalan cepat menyusuri gua, cepat keluar, dan tidak mau lagi masuk gua, sampai detik ini.. whaha...
Selidik punya selidik, mungkin rasa takut saya tersebut ada karena waktu kecil tiap kali lampu mati saya selalu glagepan (susah bernafas), sehingga ketakutan itu muncul, tapi seiring saya dewasa saya sudah tidak mengalami lagi glagepan tiap kali lampu mati, mungkin juga karena kamar saya ventilasinya banyak, atau saya sudah mampu menguasai keadaan di usia dewasa, tapi tidak tahu juga kalau di hotel atau gedung yang non ventilasi cahaya sama sekali, entahlah....
Ya, itu dua ketakutan saya, dimana saya percaya setiap orang memiliki ketakutan tersendiri dalam hidup, yang kadang ada yang berani diungkapkan ke umum, dan ada yang hanya untuk konsumsi pribadi saja. Yang jelas selama ketakutan tersebut tidak terlalu mempengaruhi hidup kita sih menurut saya tidak apa-apa, tapi kalau sudah menggangu sekali mungkin tidak ada salahnya mencari bantuan, karena kita bukan manusia sempurna kan....
Yogya, 1 Juni 2013, habis petang di kamar saya..
Selasa, 28 Mei 2013
Misteri Angka Cantik
Dalam hidup, kita seringkali menemukan angka2 yang sering muncul dalam keseharian kita, dimana masing-masing orang memiliki angka yang berbeda-beda, sehingga kadang mereka menggunakan angka-angka tersebut sebagai angka keberuntungan. Dan angka yang sering sekali ada dalam hidup saya adalah angka 2, mulai dari tanggal lahir saya yg kalau dijumlahkan akan ketemu angka 2, lalu nama saya, dan ternyata NIM saya waktu kuliah dulu juga berjumlah 2.
Tapi yang paling menarik sekitar setahun ini angka jam dan menit di hp saya sering sekali berunsur 2 atau menunjukkan angka2 cantik. Coba perhatikan jam dan menit berikut ini :
15:55, 07:07, 12:21, 08:33, 10:11, dan banyak kombinasi angka lain. Kalaupun bukan angka cantik, pasti ada menit tertentu yang berjumlah 2, seperti menit yang juga sering sekali muncul di hp saya, yaitu menit 47, bukankah 4+7=11 1+1=2..?
Awalnya saya tidak memperhatikan, dan menganggap hanya kebetulan saja saat saya membuka hp, tapi karena saking seringnya angka cantik tersebut muncul sampai saya menganggap bahwa itu semua bukan sebuah kebetulan, dimana angka2 cantik tersebut selalu menyertai langkah saya. Saya berpikir, kenapa ya, tidak mungkin jika tidak ada makna khusus, dan lama saya berpikir sehingga saya kemudian menyimpulkan bahwa mungkin itu adalah jam dan menit yang tepat, dimana (mungkin) saya sudah tepat dalam melakukan ataupun menyikapi segala sesuatu di jam dan menit tersebut... Soal benar atau tidak entahlah, yang jelas saya sering sekali tersenyum ketika memandang angka2 tersebut setiap kali saya membuka hp, dan perasaan itu selalu saya nikmati...
Jogja minggu siang 26 Mei 2013
Minggu, 19 Mei 2013
Tentang laki-laki
Saya ingat ketika menonton sebuah tayangan Stand up comedy beberapa waktu lalu. Waktu itu salah seorang comic wanita menyampaikan gurauan, bahwa dihadapan laki-laki wanita itu kalah menariknya sama playstation yang harganya sekian juta saja...itu saja beli, kalu menyewa harganya cuma sekian ribu saja perjam....hahaha...
Topik tentang laki-laki bagi saya sangat menarik, dan bukankah itu tema yang tiada habisnya akan dibahas oleh wanita, selain masalah kecantikan tentunya..hehe..
Naluri, ya bahwa wanita akan terus mempertanyakan laki-laki, sama seperti venus yang tidak memahami mars...dan fakta bahwa wanita itu dikalahkan video game atau sepakbola membuat wanita bertanya-tanya, apa sih menariknya pencat-pencet tombol game atau melihat satu bola dijadikan rebutan? Fakta tersebut memang cukup menohok sih, lihat saja banyak wanita mengeluh ketika pasangannya hobi banget sama video game dan sepakbola. Para wanita merasa "disingkirkan". Namun melarang kaum laki-laki untuk main game sama menonton sepakbola, itu sama saja seperti melarang wanita untuk berdandan lho..SANGAT .TIDAK BISA dan membuat menderita!!!! hahahaha....
Jadi kalau menurut saya sih, biarkan saja, bukankah laki-laki itu makhluk yang ingin dihargai? Jadi hargai saja kesukaannya itu, toh kalau game atau pertandingannya sudah selesai, pasti yang dicari wanita lagi...hihihi.... Menurut saya justru ada untungnya lho, karena keberadaan mereka jelas, tidak kluyuran kemana-mana, carinya juga mudah, asal cukup tahu waktu saja, contohnya seperti kaum wanita yang seneng nonton drama korea, walau asyik mengikuti tapi klo ada hal penting yang harus dilakukan, ya singkirkan dulu, sama seperti ketika kita ketinggalan bus, jangan khawatir, bus selanjutnya pasti akan lewat lagi, alias masih banyak cara utk menonton drama tersebut, toh stok masih sangat banyak...
Topik selanjutnya yang biasanya dibicarakan tentang laki-laki (terutama yang masih single) adalah mengenai laki-laki tampan, yang pintar, mapan, banyak relasi, berprestasi, dll, karena sekali lagi naluri yang berbicara, naluri bahwa manusia suka melihat yang indah-indah...tapi peringatan juga buat kaum wanita, bahwa menilai lewat pandangan pertama sih sah-sah saja, tapi selanjutnya jangan berhenti sampai disitu, krn ada tanda tanya besar yang harus menyertai si ganteng itu...Dan sebagai orang jawa, saya percaya akan ungkapan tresno jalaran saka kulino (suka karena terbiasa) itu jauh lebih baik, daripada sebuah perasaan cinta setengah mati pada pandangan pertama, yang sangat menggebu-gebu, bahkan sampai mematikan logika. Aduh duh...
Dari pengalaman saya sih mengenal laki-laki, tidak perduli apa hobinya, tidak perduli ia ganteng atau tidak, tidak perduli ia pintar atau tdk pintar, kaya atau keluarga sederhana, bahkan lebih muda atau lebih tua, itu semua hanya tentang apa yg ada di permukaan saja, dan semua pengalaman saya tersebut mengajarkan saya untuk hanya fokus pada menyelami sosok laki-laki yang membuat saya merasa TEDUH disampingnya, merasa AMAN sebagai wanita yang diindunginya, merasa NYAMAN karena bisa menjadi diri sendiri dan mampu bertumbuh dan berkembang dg dukungannya, serta perasaan TENANG dalam menjalani hidup krn ada sosok pemimpin disamping saya...
Jogja, 19 mei 2013
minggu siang yang tenang di dalam kamarku..
Topik tentang laki-laki bagi saya sangat menarik, dan bukankah itu tema yang tiada habisnya akan dibahas oleh wanita, selain masalah kecantikan tentunya..hehe..
Naluri, ya bahwa wanita akan terus mempertanyakan laki-laki, sama seperti venus yang tidak memahami mars...dan fakta bahwa wanita itu dikalahkan video game atau sepakbola membuat wanita bertanya-tanya, apa sih menariknya pencat-pencet tombol game atau melihat satu bola dijadikan rebutan? Fakta tersebut memang cukup menohok sih, lihat saja banyak wanita mengeluh ketika pasangannya hobi banget sama video game dan sepakbola. Para wanita merasa "disingkirkan". Namun melarang kaum laki-laki untuk main game sama menonton sepakbola, itu sama saja seperti melarang wanita untuk berdandan lho..SANGAT .TIDAK BISA dan membuat menderita!!!! hahahaha....
Jadi kalau menurut saya sih, biarkan saja, bukankah laki-laki itu makhluk yang ingin dihargai? Jadi hargai saja kesukaannya itu, toh kalau game atau pertandingannya sudah selesai, pasti yang dicari wanita lagi...hihihi.... Menurut saya justru ada untungnya lho, karena keberadaan mereka jelas, tidak kluyuran kemana-mana, carinya juga mudah, asal cukup tahu waktu saja, contohnya seperti kaum wanita yang seneng nonton drama korea, walau asyik mengikuti tapi klo ada hal penting yang harus dilakukan, ya singkirkan dulu, sama seperti ketika kita ketinggalan bus, jangan khawatir, bus selanjutnya pasti akan lewat lagi, alias masih banyak cara utk menonton drama tersebut, toh stok masih sangat banyak...
Topik selanjutnya yang biasanya dibicarakan tentang laki-laki (terutama yang masih single) adalah mengenai laki-laki tampan, yang pintar, mapan, banyak relasi, berprestasi, dll, karena sekali lagi naluri yang berbicara, naluri bahwa manusia suka melihat yang indah-indah...tapi peringatan juga buat kaum wanita, bahwa menilai lewat pandangan pertama sih sah-sah saja, tapi selanjutnya jangan berhenti sampai disitu, krn ada tanda tanya besar yang harus menyertai si ganteng itu...Dan sebagai orang jawa, saya percaya akan ungkapan tresno jalaran saka kulino (suka karena terbiasa) itu jauh lebih baik, daripada sebuah perasaan cinta setengah mati pada pandangan pertama, yang sangat menggebu-gebu, bahkan sampai mematikan logika. Aduh duh...
Dari pengalaman saya sih mengenal laki-laki, tidak perduli apa hobinya, tidak perduli ia ganteng atau tidak, tidak perduli ia pintar atau tdk pintar, kaya atau keluarga sederhana, bahkan lebih muda atau lebih tua, itu semua hanya tentang apa yg ada di permukaan saja, dan semua pengalaman saya tersebut mengajarkan saya untuk hanya fokus pada menyelami sosok laki-laki yang membuat saya merasa TEDUH disampingnya, merasa AMAN sebagai wanita yang diindunginya, merasa NYAMAN karena bisa menjadi diri sendiri dan mampu bertumbuh dan berkembang dg dukungannya, serta perasaan TENANG dalam menjalani hidup krn ada sosok pemimpin disamping saya...
Jogja, 19 mei 2013
minggu siang yang tenang di dalam kamarku..
Sabtu, 11 Mei 2013
Laki-laki 'Melambai...'
Apakah laki-laki, sesosok jiwa tangguh pelindung hati seorang makhluk lembut bernama wanita?
Dan apakah laki-laki, sesosok raga kuat pemilik tulang rusukku ini?
Serta apakah laki-laki itu sehingga bisa membuatku rela memberikan rahimku ini
untuk ditanam benih surganya, cikal bakal penerus adam hawa?
-Eli Kristiana-
Wow, mungkin ada dari sebagian kita yang senyum-senyum ketika membaca judul "Laki-laki Melambai", karena membayangkan sosok tersebut. Wajar sekali. karena pada umumnya seseorang yang dipandang benar-benar laki-laki adalah ia yang memilki penampilan dan karakter macho, gagah, kuat, berani, ya pokoknya yang begitulah. Sedang laki-laki yang agak ke'cewek-cewekan' otomatis masuk ke kategori cowok 'melambai'...hehe...
Tapi saya pernah lho dulu sempat kesemsem sama seorang laki-laki tipe melambai seperti itu, tapi melambai lho ya, bukan yang transeksual, ataupun yang mendekati transeksual. Ehm contoh tipe melambai itu ya mungkin kalau artis ya kayak Olga Syahputra itu contohnya. Pertamakali bertemu agak 'jijai' bagaimana gitu, 'ih endaaang...' hehe.. tapi ternyata tidak semua laki2 agak melambai di dalamnya juga pasti seperti itu. Justru laki2 yang pernah buat saya kesemsem itu adalah pribadi yang sangat bisa diandalkan, sangat bisa melindungi, mengayomi orang-orang sekitarnya, pribadi mandiri, tangguh, dll. Benar-benar ku tertipu sekali.Dibalik kelembutan suaranya yang mendayu-dayu, kehalusan tingkah lakunya, dan gayanya yang agak kemayu, ternyata ia laki-laki sekali to...wah suit-suit lah pokoknya...
Sejak saat itu pandanganku akan yang namanya makhluk bernama laki-laki berubah, bahwa kejantanan seorang laki-laki bukan dari tampilan luar semata, namun dari apa yang ada dalam dirinya yang tercermin dari cara ia menyelesaikan masalah, dari cara ia memperlakukan wanita, dan cara ia memandang kehidupan ini...
Yogyakarta, 12 Mei 2013
minggu tengah hari yang tenang
Sabtu, 09 Maret 2013
Bisa Karena Terbiasa..
Bagi kebanyakan orang, bidang farmasi merupakan salah satu bidang yang cukup sulit dipelajari. Biaya sekolahnya mahal, butuh hafalan-hafalan obat dengan nama-nama yg sulit, dan kadang panjang-panjang lagi, jadi itu bukan pilihanku. Tapi entah kenapa kuambil tawaran untuk kerja di apotik, karena kupikir ada ilmu baru yang bisa kupelajari, toh nanti bisa bertanya.
Tapi ternyata, apa yang kupikir mudah tidak semudah kenyataan. Basicku yang bukan farmasi sudah membuatku mengalami banyak kesulitan saat bekerja di hari pertama. Waktu itu tugas pertamaku sebagai karyawan baru adalah menyiapkan obat-obatan yang harus dikirim ke apotik-apotik cabang dan dan membuat fakturnya. Bayangkan saja, aku harus tahu obat itu masuk golongan generik, golongan obat paten, atau bahkan psikotropika dan narkotika yang notabene harus dipersiapkan oleh apoteker sendiri. Belum lagi tulisan yang sulit dibaca dan disingkat-singkat lagi. Jadi tiap baris obat, kuharus bertanya teman, karena kalau tidak aku tidak bakal menemukan obatnya disimpan dimana dan golongan apa. Rasanya seperti orang buta, yang jika tidak bertanya maka sesat di jalan.
Selama sebulan aku stres berat, karena belum hafal-hafal, padahal tugas-tugasku semakin bertambah, sampai-samai aku berniat mengundurkan diri dari pekerjaanku, tapi berkat kata-kata seorang teman kerja, kurngkan niatku itu. Waktu itu ia berkata, " Kalau bekerja di dunia farmasi, jangan dihafalkan, tapi dijalani, nanti juga hafal sendiri.."
Dan betul sekali kata temnaku itu, setelah 3 bulan, kusudah enjoy dengan pekerjaanku, bahkan sering tersenyum dengan karyawan baru yang kebingungan dan setiap menit selalu bertanya padaku...hehe...
Satu inspirasi yang kuambildari pekerjaanku waktu diapotik dulu, yaitu bahwa pekerjaan sesulit apapun akan sanggup kita kerjakan karena TERBIASA. Ya, terbiasa. Kita bisa karena kita terbiasa. Apa jadinya jika kuterlanjur mengundurkan diri dulu? Menyianyiakan ilmu bergengsi yang bisa kudapat secara GRATIS, bahkan sambil digaji pula...:-) sedang orang lain harus belajar mahal, lama dan sulit untuk masuk dunia farmasi ini....
Beruntungnya diriku....
Suatu hari di Jogja....
Tapi ternyata, apa yang kupikir mudah tidak semudah kenyataan. Basicku yang bukan farmasi sudah membuatku mengalami banyak kesulitan saat bekerja di hari pertama. Waktu itu tugas pertamaku sebagai karyawan baru adalah menyiapkan obat-obatan yang harus dikirim ke apotik-apotik cabang dan dan membuat fakturnya. Bayangkan saja, aku harus tahu obat itu masuk golongan generik, golongan obat paten, atau bahkan psikotropika dan narkotika yang notabene harus dipersiapkan oleh apoteker sendiri. Belum lagi tulisan yang sulit dibaca dan disingkat-singkat lagi. Jadi tiap baris obat, kuharus bertanya teman, karena kalau tidak aku tidak bakal menemukan obatnya disimpan dimana dan golongan apa. Rasanya seperti orang buta, yang jika tidak bertanya maka sesat di jalan.
Selama sebulan aku stres berat, karena belum hafal-hafal, padahal tugas-tugasku semakin bertambah, sampai-samai aku berniat mengundurkan diri dari pekerjaanku, tapi berkat kata-kata seorang teman kerja, kurngkan niatku itu. Waktu itu ia berkata, " Kalau bekerja di dunia farmasi, jangan dihafalkan, tapi dijalani, nanti juga hafal sendiri.."
Dan betul sekali kata temnaku itu, setelah 3 bulan, kusudah enjoy dengan pekerjaanku, bahkan sering tersenyum dengan karyawan baru yang kebingungan dan setiap menit selalu bertanya padaku...hehe...
Satu inspirasi yang kuambildari pekerjaanku waktu diapotik dulu, yaitu bahwa pekerjaan sesulit apapun akan sanggup kita kerjakan karena TERBIASA. Ya, terbiasa. Kita bisa karena kita terbiasa. Apa jadinya jika kuterlanjur mengundurkan diri dulu? Menyianyiakan ilmu bergengsi yang bisa kudapat secara GRATIS, bahkan sambil digaji pula...:-) sedang orang lain harus belajar mahal, lama dan sulit untuk masuk dunia farmasi ini....
Beruntungnya diriku....
Suatu hari di Jogja....
Sabtu, 23 Februari 2013
Tentang Semangkuk Soto Ayam..
Tiap orang di dunia ini memiliki masakan favorite, entah karena faktor rasa, faktor tempat, atau mungkin juga krn ada cantolan memori di balik masakan tersebut.
Nah bagiku, soto ayam adl salah satu masakan yg kusukai karena terenak di duni (versiku..:-p ), tidak perduli yang masak siapa, entah di rumah makan atau hanya di warung kecil pinggir jalan. Soto ayam ya tetap soto ayam! Dan ada pasangannya, yaitu segelas teh hangat. Jadi semangkuk soto ayam plus segelas teh hangat adl surga kecil bagiku...
Walaupun aku penggemar soto ayam, tapi aku tidak begitu tertarik utk wisata kuliner, dan berburu dari rasa soto ayam yg satu ke soto ayam yg lain. Sama saja di lidahku, ya beda beda dikit lah... Tapi anehnya aku malah tertarik utk mencoba soto-soto ayam termurah yg ada. Malah buat penasaran akan rasanya. Dan ternyata ada semangkuk nasi soto ayam + segelas teh hangat manis dg harga Rp 3500+ Rp 1000.
Mengasyikkan sekali. Murah meriah, dan yg pasti menyenangkan hatiku.
Apa sih yg enak dari soto ayam? Begitu tanya teman2ku. Aroma dan rasa kuahnya? Suwiran daging ayamnya? atau krn rasa pedas dari sambalnya yg menyatu beserta nasi plus rasa manis dan sepat dari segelas teh hangat yg melegakan? Kujawab semuanya. Suka ya suka, kadang kita tidak bisa selalu menemukan alasannya kan...
Apapun itu, semangkuk soto ayam yg merupakan masakan asli Indonesia pasti akan selau aku rindukan jika kelak sedang berada di luar negeri. Sama seperti mangkuknya, yaitu mangkuk ayam jago yang MUNGKIN hanya ada di Indonesia saja.
Love Indonesia, love semangkuk soto ayam...
Yogya, pertengahan Februari '13
disuatu siang
Nah bagiku, soto ayam adl salah satu masakan yg kusukai karena terenak di duni (versiku..:-p ), tidak perduli yang masak siapa, entah di rumah makan atau hanya di warung kecil pinggir jalan. Soto ayam ya tetap soto ayam! Dan ada pasangannya, yaitu segelas teh hangat. Jadi semangkuk soto ayam plus segelas teh hangat adl surga kecil bagiku...
Walaupun aku penggemar soto ayam, tapi aku tidak begitu tertarik utk wisata kuliner, dan berburu dari rasa soto ayam yg satu ke soto ayam yg lain. Sama saja di lidahku, ya beda beda dikit lah... Tapi anehnya aku malah tertarik utk mencoba soto-soto ayam termurah yg ada. Malah buat penasaran akan rasanya. Dan ternyata ada semangkuk nasi soto ayam + segelas teh hangat manis dg harga Rp 3500+ Rp 1000.
Mengasyikkan sekali. Murah meriah, dan yg pasti menyenangkan hatiku.
Apa sih yg enak dari soto ayam? Begitu tanya teman2ku. Aroma dan rasa kuahnya? Suwiran daging ayamnya? atau krn rasa pedas dari sambalnya yg menyatu beserta nasi plus rasa manis dan sepat dari segelas teh hangat yg melegakan? Kujawab semuanya. Suka ya suka, kadang kita tidak bisa selalu menemukan alasannya kan...
Apapun itu, semangkuk soto ayam yg merupakan masakan asli Indonesia pasti akan selau aku rindukan jika kelak sedang berada di luar negeri. Sama seperti mangkuknya, yaitu mangkuk ayam jago yang MUNGKIN hanya ada di Indonesia saja.
Love Indonesia, love semangkuk soto ayam...
Yogya, pertengahan Februari '13
disuatu siang
Selasa, 08 Januari 2013
Saya wanita dewasa
Menjadi mungil itu bukan pilihanku, tapi klo tetap saja mungil walau sudah sering "gantung" di kusen pintu tapi tetap saja tinggi tidak tambah2, dan minum vitamin ini vitamin itu, tetap saja angka meteran tidak naik2, ya mau bagaimana lagi...dah takdir mungkin.
Tapi ternyata plusnya, selain awet muda, imut-imut, mudah dilindungi, hemat lagi (dari hand body, cream wajah, baju ukuran kecilsampai tidak pernah buat pas foto terbaru krn fotoku sma seperti aku yg 10 tahun lalu...hehe). Dulu waktu ABG memang tidak PD sekali, apalagi sama anak cowok yg cakep dan tinggi lagi. Tapi anehnya banyak juga tuh yang suka padaku, mungkin yaa karena ku kan tidak jelek2 amat, lumayan manis kata teman2.. (hasil survei kecil2 an dg menanyai temn2 yg dalam pandanganku sgt jujur :-) ).
Lagipula bukanlah selera laki2 juga beda2, ada yg suka wanita model JP, model Jane shalimar, model kurus kutilang, atau kayak Yuni Shara.
Bicara soal awet muda, ada pengalaman kecil nih, waktu ngurus KTP kemarin, eh ku dikira masih anak SMA! Aduh pak, usia sudah kepala tiga begini dikira masih seragam putih abu-abu.....!!! Tapi bangga juga sih rasanya klo dibilang awet muda, tapi tetap saja aku lebih senang klo bisa mengatakan, "Saya Eli, dan saya wanita dewasa..."
Jogja, suatu siang, di 9 Januari 2012
Langganan:
Komentar (Atom)





